NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilu di negara itu.
Israel akan menggelar pemilu parlemen pada 27 Oktober. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan, baik Netanyahu maupun kubu oposisi diperkirakan kesulitan meraih 61 kursi. Padahal, jumlah itu dibutuhkan untuk membentuk koalisi pemerintahan.
"Pernyataan ini menjadi bukti dukungan penuh dan tanpa syarat saya kepada Bibi Netanyahu," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Trump menyebut Netanyahu sebagai "perdana menteri pejuang". Ia juga memuji peran Netanyahu dalam perang Iran.
"BIBI NETANYAHU TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN KALIAN!" tulis Trump.
Netanyahu berterima kasih kepada Trump atas "dukungan luar biasa" yang diberikan.
"Bersama-sama, kita akan menuntaskan misi ini," tulis Netanyahu melalui akun X miliknya, merujuk pada kerja sama kedua negara dalam perang melawan Iran.
Menurut Trump, AS akan menghadapi perang Iran sendirian jika Netanyahu tidak terpilih kembali. Ia juga menyinggung tentang seruan kematian AS dan Israel yang seringkali dinyanyikan dalam acara Korps Garda Revolusi Islam Iran. Kedua negara itu juga dijuluki sebagai "Setan besar dan kecil".
"Jika Israel dipimpin oleh orang yang salah, siapa pun selain Bibi (Netanyahu), Amerika harus menangani perang ini sendiri. Saya tidak berminat melakukannya," kata Trump.
Meski begitu, dampak dukungan Trump terhadap hasil pemilu belum dapat dipastikan. Walau Trump populer di Israel, sejumlah warga Israel kecewa dengan hasil perang Iran. Sebab, hasil perang tersebut belum jelas. Selain itu, usulan gencatan senjata Trump dinilai belum memenuhi banyak tujuan utama kedua negara sejak perang dimulai.
Perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari dan menyebabkan Teheran memblokir sebagian pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Kandidat lain sekaligus pesaing utama Netanyahu, Gadi Eisenkot, menanggapi dukungan Trump dengan menegaskan bahwa satu-satunya pihak yang berhak menentukan pemimpin negara berikutnya adalah rakyat Israel.
Dalam sebuah acara di Tel Aviv, Eisenkot mengapresiasi "kontribusi besar" Trump terhadap keamanan Israel.
"Namun, Israel adalah negara demokratis," ujarnya. Ia menambahkan, pemerintahan AS harus siap bekerja sama dengan pemerintahan mana pun yang dipilih rakyat Israel.
Ini bukan kali pertama Netanyahu memanfaatkan dukungan Trump dalam kampanye pemilu untuk memperkuat citra internasionalnya.
Pada 2019, Partai Likud pimpinan Netanyahu memasang baliho yang menampilkan Netanyahu berjabat tangan dengan Trump, yang saat itu menjabat sebagai presiden AS untuk pertama kalinya. Baliho tersebut juga menampilkan Netanyahu bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, dimana Netanyahu digambarkan sebagai pemimpin dengan "level yang berbeda".
Netanyahu merupakan perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel. Masyarakat Israel terbelah dalam menyikapi peran koalisi sayap kanan Netanyahu. Mereka dianggap gagal mengantisipasi dan mencegah serangan Hamas dan kelompok afiliasinya dari Gaza pada 7 Oktober. Serangan itu sendiri menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.
Netanyahu menolak pembentukan komisi penyelidikan negara yang bertugas untuk mengusut berbagai dokumen pemerintah serta memanggil beberapa pejabat politik untuk bersaksi.
Sebaliknya, ia justru menginginkan komisi dengan kewenangan yang lebih terbatas untuk mengakses dokumen rahasia, serta tidak lagi memiliki wewenang untuk memaksa politisi dan pejabat tinggi negara memberikan kesaksian.
Isu lain yang memicu perdebatan adalah perang Israel di Gaza setelah serangan 7 Oktober. Perang tersebut kini telah menewaskan sekitar 74.000 warga Palestina.
Meski berulang kali menjanjikan "kemenangan total" sejak perang dimulai, para pendukung oposisi menilai Netanyahu gagal memenuhi janjinya. Faktanya, Hamas masih menguasai sejumlah wilayah di Jalur Gaza.
Netanyahu dan mitra koalisinya juga berjanji mendukung "migrasi sukarela" warga Gaza, sekaligus memperkuat kendali Israel atas wilayah Tepi Barat, meski hukum internasional menganggap pendudukan Israel di wilayah tersebut ilegal secara hukum.
Isu lain yang menjadi perhatian dalam pemilu Israel meliputi kewajiban militer bagi pria muda Yahudi ultra-Ortodoks, biaya hidup, serta status Israel di kancah internasional.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris