NADIKABAR.COM — John Herdman sukses mempersembahkan trofi untuk Timnas Indonesia setelah membawa Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Keberhasilan tersebut langsung membuat namanya dibanding-bandingkan dengan mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong (STY).
Indonesia keluar sebagai juara setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) padda Senin malam (5/10/2026). Kedua tim sebelumnya bermain imbang 2-2 hingga pertandingan harus ditentukan melalui titik putih.
Tak lama setelah kemenangan tersebut, media sosial ramai membicarakan catatan Herdman dan STY. Salah satunya muncul dari unggahan akun @panditfootball yang menyoroti perbedaan raihan trofi kedua pelatih.
STY sekitar lima tahun menangani Timnas Indonesia tanpa mempersembahkan gelar, Patrick Kluivert sekitar 10 bulan juga tanpa trofi, sedangkan Herdman membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan untuk mengangkat piala bersama Garuda.
Secara sederhana, sejumlah netizen menyebut skor sementara Herdman vs STY kini "1-0" jika ukurannya adalah jumlah trofi.
"Herdman lebih berprestasi, meski bukan berarti mutlak dia lebih jago dari yang lain. Faktanya begitu, ya diterima aja," tulis @panditfootball.
Namun perbandingan tersebut justru memancing perdebatan. Banyak warganet meminta publik tidak mengadu Herdman dan STY karena keduanya menangani Timnas Indonesia dalam kondisi berbeda.
Sejumlah netizen menilai Shin Tae-yong punya peran besar membangun fondasi Timnas Indonesia sebelum era Herdman. STY datang ketika komposisi Garuda belum seperti sekarang dan perlahan membentuk generasi baru.
"STY ngumpulin satu persatu kepingan pemain, JH bertanding dengan skuad lengkap. Salut buat semua pelatih," tulis seorang warganet.
Pendapat senada disampaikan netizen lain yang menyebut STY sebagai salah satu arsitek fondasi Timnas.
"John Herdman lebih sukses untuk raihan trofi, namun Shin Tae-yong adalah arsitek perancang pondasi Timnas Indonesia yang dirusak Patrick Kluivert dan diperbaiki kembali oleh John Herdman. Saat ini kita harus berterima kasih kepada John Herdman dan para pemain," kata @snmblex.
Ada pula yang meminta pendukung Garuda menikmati gelar juara dan berhenti mengadu dua pelatih.
"Tadi sempet baca ada yang nanyaiin, 'Yang teriak STY kemana semua?' Heii, kalian kita lagi menang loh ini. Masih aja sibuk adu domba. John Herdman masih banyak juga PR-nya. Masih ada Piala Asia yang bener-bener jadi ajang pembuktian beliau," tulis seorang pengguna X.
Netizen lainnya mengakui Herdman kini punya pencapaian berupa trofi, tetapi menilai hal tersebut tidak otomatis membuatnya lebih baik daripada STY.
"Fakta memang John Herdman lebih berprestasi dari STY. Tapi bukan berarti saya lebih mencintai JH ketimbang STY. Respect buat JH," ujar @AkilaNazaffu.
"Yang membangun STY yang menikmati hasilnya John Herdman dengan torehan 1 gelar. Mari rayakan guys," timpal warganet lainnya.
Perdebatan Herdman dan STY sebenarnya sudah muncul sebelum Indonesia menjadi juara. Saat Garuda ditahan Malaysia 0-0 di fase grup, nama STY bahkan kembali menggema dan Herdman mendapat kritik karena dinilai memiliki materi pemain yang lebih mewah. Kala itu Indonesia harus bermain dengan 10 pemain setelah Thom Haye mendapat kartu merah pada menit ke-37.
Catatan awal keduanya memang berbeda. Dalam 10 pertandingan pertama bersama Timnas Indonesia, Herdman membukukan enam kemenangan, dua hasil imbang dan dua kekalahan.
Sementara STY mencatat lima kemenangan, satu imbang dan empat kekalahan dalam 10 laga awalnya. Namun STY memulai pekerjaannya ketika kondisi dan komposisi skuad berbeda dibandingkan yang diwarisi Herdman.
Kini perdebatan itu berbalik setelah Herdman sukses memberikan trofi. Dari urusan gelar bersama Timnas Indonesia, Herdman boleh saja sementara unggul "1-0" atas STY.
Namun bagi sebagian warganet, jasa STY dalam membangun fondasi dan keberhasilan Herdman membawa Garuda menjadi juara tidak harus dipertentangkan.
Ujian berikutnya bagi Herdman pun bakal lebih berat. Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 sudah berada di tangan, tetapi performa Timnas Indonesia di level Asia akan menjadi panggung berikutnya untuk mengukur perkembangan Garuda di bawah arahannya.