"Serendo-rendo tuh kalau bahasa Betawi, rame-rame. Ngeriung kita," lanjutnya.

"Kalau Betawi bilang bukan balai, bale. Jadi ini bale kota, bale-nya masyarakat, bukannya bale kita," ujarnya.

Menurut Rano, filosofi bale dalam budaya Betawi menggambarkan ruang yang terbuka dan menjadi tempat menerima tamu. Nilai keramahan itu ingin dihadirkan di Balai Kota agar masyarakat merasa diterima dan memiliki kedekatan dengan pemerintah daerah.

Dengan konsep tersebut, Namu Balai Kota diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan warga. Masyarakat tidak hanya datang untuk melihat bangunan, tetapi juga berkesempatan mengenal berbagai program dan layanan yang disediakan Pemprov DKI.

"Semoga Namu Balai Kota ini dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan antara pemerintah daerah dengan warganya," kata Rano saat ditemui setelah acara.

Dari Layanan Publik hingga Seni dan Budaya

Namu Balai Kota tidak hanya menawarkan pengalaman menjelajahi gedung pemerintahan. Program ini juga menghadirkan beragam kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat.

Pengunjung dapat mengakses sejumlah layanan publik, mulai dari pengurusan paspor, layanan Samsat, perizinan, hingga layanan dari Bank Jakarta. Kehadiran layanan tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat untuk mengenal pelayanan pemerintah dalam suasana yang berbeda.

Selain itu, kegiatan seni dan budaya turut menjadi bagian dari program. Masyarakat dapat menikmati pemutaran film, permainan tradisional, kuliner, serta aktivitas komunitas.

Ragam kegiatan tersebut membuat Namu Balai Kota tidak hanya berorientasi pada pengenalan gedung, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk berkegiatan bersama.

Bagi keluarga yang datang bersama anak-anak, misalnya, kunjungan ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan lingkungan pemerintahan secara langsung. Sementara itu, kegiatan seni, budaya, dan kuliner memberikan pilihan aktivitas bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu di kawasan Balai Kota.

Melalui program ini, Pemprov DKI berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dan terbuka bagi masyarakat. Balai Kota diharapkan tidak lagi hanya dikenal sebagai lokasi kegiatan resmi pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan warga.

Sebelum resmi dibuka pada 17 Oktober 2026, Namu Balai Kota telah menjalani uji coba pada Sabtu (3/10). Dalam uji coba tersebut, pengunjung dari berbagai kalangan, termasuk pelajar dan anak-anak pejuang kanker, terlihat antusias mengikuti kegiatan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya mengakui tingginya minat masyarakat untuk mengunjungi Balai Kota. Bahkan, antusiasme pengunjung saat uji coba disebut berada di luar perkiraan.