"Yang pertama acara 'Namu Jakarta' memang antusiasmenya tinggi sekali. Kan kita sampai ganti shift sebenarnya," ujar Pramono kepada wartawan di Velodrome, Jakarta Timur, Minggu (4/10).
Pramono mengatakan tingginya jumlah pengunjung sempat menyebabkan antrean panjang. Meski demikian, dia menilai hal tersebut menjadi bagian dari proses awal penyelenggaraan program.
"Tetapi karena antusiasmenya yang di luar dugaan sehingga kemudian antreannya menjadi panjang. Tetapi prinsipnya adalah karena ini baru hari pertama pasti itu biasa terjadi," jelasnya.
Dia pun menyampaikan bahwa Balai Kota akan dibuka secara rutin agar masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat pusat pemerintahan Jakarta bisa mendapatkan kesempatan berkunjung.
"Tetapi kami akan secara rutin membuka itu supaya warga Jakarta yang pengen tahu tentang balai kota dan seluruh isinya kami persilakan," tutupnya.
Rano mengatakan pelaksanaan Namu Balai Kota akan terus dievaluasi, termasuk untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan selama uji coba.
Untuk saat ini, kegiatan tersebut direncanakan berlangsung setiap dua pekan selama 2026. Pemprov DKI akan melihat hasil pelaksanaannya sebelum menentukan frekuensi kegiatan pada tahun berikutnya.
"Kita rencana dua minggu selama tahun 2026. Tapi tahun depan kita lihat kalau dianggap kurang, ya enggak tahu, mungkin tiap minggu Wakil Gubernur jadi penerima tamu di sini. Kita evaluasi," tuturnya.
Membuka Ruang, Mendekatkan Pemerintah dengan Warga
Kehadiran Namu Balai Kota memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat sisi lain gedung yang selama ini identik dengan aktivitas pemerintahan. Di balik ruang rapat, lukisan, dan bangunan yang menarik perhatian pengunjung, terdapat upaya untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara pemerintah dan masyarakat.
Pengalaman Utami menjadi salah satu gambaran bagaimana keterbukaan tersebut dirasakan warga. Hal yang sebelumnya hanya diketahui dari luar atau melalui layar televisi kini dapat disaksikan secara langsung.
Bagi anak-anak yang ikut berkunjung, kesempatan tersebut juga membuka ruang untuk mengenal lingkungan pemerintahan sejak dini. Mereka tidak hanya mendengar tentang Balai Kota, tetapi juga dapat melihat langsung tempat berbagai urusan pemerintahan dijalankan.
Sementara itu, konsep 'bale' yang diusung Rano menekankan bahwa Balai Kota diharapkan menjadi tempat yang ramah bagi masyarakat. Bukan semata-mata gedung tempat pejabat bekerja, melainkan ruang yang dapat mempertemukan pemerintah dan warga dalam suasana yang lebih terbuka.