NADIKABAR.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang di lahan gambut bisa menghambat regenerasi pohon dan membuat vegetasi yang mudah terbakar semakin mendominasi. Tidak hanya menghanguskan vegetasi, kebakaran berulang juga dapat mengubah ekosistem sehingga lebih rentan terbakar kembali.
Penelitian 'Tropical Peat Composition May Provide a Negative Feedback on Fire Occurrence and Severity' yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2024 menjelaskan bahwa kebakaran yang makin sering atau parah dapat mengurangi pertumbuhan kembali pohon dan menggeser komposisi vegetasi menuju komunitas pakis serta tumbuhan sejenis rumput yang lebih mudah terbakar.
"Kebakaran awal dapat meningkatkan risiko penyalaan api berikutnya karena hilangnya tutupan pohon membuat kondisi lingkungan menjadi lebih kering," tulis para peneliti.
Mekanisme ini dapat membentuk lingkaran yang merugikan. Ketika pohon mati atau tutupan hutan berkurang, kelembapan mikroklimat dapat menurun. Pada saat yang sama, batang mati dan vegetasi yang tumbuh setelah kebakaran dapat menjadi bahan bakar ketika mengering. Jika gambut juga dikeringkan oleh kanal drainase, risiko kebakaran berulang semakin besar.
Temuan lain dari penelitian di lahan gambut Sumatera yang diterbitkan dalam Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan pada Desember 2025 memperlihatkan bahwa vegetasi di area yang terbakar berulang pulih lebih lambat dan lebih tidak merata dibandingkan area yang hanya terbakar sekali. Survei lapangan juga menemukan struktur hutan lebih sederhana, dengan berkurangnya kerapatan pohon dan meningkatnya dominasi semak serta pakis.
Artinya, lahan yang terlihat kembali hijau setelah karhutla belum tentu kembali menjadi hutan dengan struktur dan daya tahan seperti semula. Jika kebakaran kembali terjadi sebelum ekosistem pulih, proses regenerasi dapat makin terhambat.
Para peneliti menekankan pentingnya pencegahan kebakaran berulang sebagai bagian dari pemulihan gambut. Upaya pemulihan vegetasi perlu disertai pengelolaan air dan perlindungan terhadap kebakaran baru, agar tumbuhan asli memiliki kesempatan untuk tumbuh kembali.