NADIKABAR.COM — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Dia melaporkan karhutla di Sumatera dan Kalimantan mencapai 1.212,52 hektare dan yang berhasil dipadamkan ada 1.002,74 hektar.

Sekitar 209,78 hektare masih perlu dipadamkan, yang terluas ada di Kalimantan Selatan yang masih terbakar seluas 63,16 hektare. Sementara yang terendah ada di Kalimantan Barat mencapai 11,74 hektare. Hanya saja Suharyanto mengatakan penanganan asap imbas karhutla cukup sulit dilakukan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, sebab operasi modifikasi cuaca (OMC) belum berhasil. Hal itu membuat asap mengganggu penerbangan komersial dan operasional transportasi udara.

"OMC terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, mengakibatkan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat asapnya cukup tebal, Pak Presiden. Ini juga mengganggu penerbangan komersil, operasi udara, dan water bombing," beber Suharyanto dalam video yang ditayangkan di akun Sekretariat Presiden, Rabu (23/9/2026).

Dia melanjutkan penerbangan keluar masuk wilayah Kalimantan Tengah dan Baeat terganggu.

"Hanya memang untuk transportasi keluar masuk penerbangan khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang sedikit terganggu," lanjutnya.

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara masih melakukan pemantauan dan koordinasi terhadap keselamatan dan operasional penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan kondisi asap akibat Karhutla dapat mempengaruhi jarak pandang di sekitar bandar udara sehingga berdampak terhadap kelancaran operasional penerbangan. Dalam kondisi tersebut, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan.

"Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Apabila kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, maka penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan, maupun pengalihan sesuai hasil evaluasi kondisi di lapangan dan pertimbangan keselamatan," ujar Lukman.

Berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara, penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait selama periode 14-20 September 2026, tercatat 409 penerbangan terdampak di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 254 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), dan 14 penerbangan dialihkan (divert).

Jumlah penerbangan terdampak tersebut meningkat dibandingkan periode 7-13 September 2026 yang mencatat 159 penerbangan terdampak. Kondisi ini antara lain dipengaruhi oleh menurunnya jarak pandang akibat asap Karhutla.

Secara kewilayahan, Kalimantan Tengah mencatat dampak tertinggi dengan 201 penerbangan terdampak, terdiri atas 79 delay, 121 cancelled/postponed, dan 1 diverted. Selanjutnya, Kalimantan Timur mencatat 138 penerbangan terdampak, terdiri atas 48 delay, 77 cancelled/postponed, dan 13 diverted. Sementara Kalimantan Utara mencatat 70 penerbangan terdampak, terdiri atas 14 delay dan 56 cancelled/postponed.

Kondisi jarak pandang terendah selama periode tersebut tercatat mencapai 50 meter di beberapa bandar udara, antara lain Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi operasional penerbangan karena setiap penerbangan harus memenuhi ketentuan keselamatan dan batas minimum operasional yang berlaku.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan pada 21 September 2026, dampak kondisi asap Karhutla juga terjadi di sejumlah bandar udara di Kalimantan Barat oleh Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama.

Di Bandara Supadio, Pontianak, sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan dengan durasi antara 42 hingga 195 menit. Selain itu, terdapat penerbangan yang dibatalkan karena kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.

Di Bandara Rahadi Oesman, Ketapang, terdapat penerbangan yang mengalami keterlambatan akibat kondisi cuaca. Sementara itu, di Bandara Singkawang, terdapat beberapa penerbangan yang dibatalkan karena alasan operasional. Bandara tetap berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.000 meter.

Adapun Bandara Tebelian, Sintang, dan Bandara Pangsuma, Putussibau, juga berstatus open dengan jarak pandang masing-masing sekitar 700 meter. Pada saat pemantauan, tidak terdapat jadwal penerbangan di kedua bandar udara tersebut.

Lukman menyampaikan bahwa Ditjen Perhubungan Udara bersama Kantor Otoritas Bandar Udara dan seluruh stakeholder penerbangan terus melakukan pemantauan kondisi jarak pandang, koordinasi operasional, serta evaluasi secara berkala.

"Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan operasional penerbangan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan," jelas Lukman.