"Saya ingin menekankan pentingnya China meningkatkan akses pasar bagi produk-produk Indonesia di bidang pertanian, hasil laut, furnitur, serta produk usaha kecil dan menegah lainnya," ungkap Lili.
Lili menyebut, sangat penting bagi China untuk meningkatkan kualitas investasinya di ASEAN, termasuk Indonesia. Karena itu, ia mengusulkan untuk meningkatkan investasi asing langsung (FDI) bilateral.
"Secara khusus, saya ingin menekankan investasi pada infrastruktur, kemajuan teknologi, dan infrastruktur digital hingga energi hijau. Sebab, ketika kita membahas teknologi digital dan AI, pada akhirnya kita juga membicarakan pasokan energi," ucapnya.
China, kata Lili, memiliki kemampuan yang sangat baik dalam pengembangan panel surya dan pembangkit listrik tenaga air, sementara ASEAN memiliki pasar. Kerja sama tersebut dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan apabila China berinvestasi bukan hanya dalam bentuk modal, tetapi juga dalam teknologi dan pengembangan keterampilan bagi pasar ASEAN.
Perdagangan bilateral Indonesia-China diketahui meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2015, yaitu mencapai 167 miliar dolar AS pada 2025 dan melampaui 135 miliar dolar AS hingga Agustus 2026
China juga secara konsisten berada di antara tiga besar sumber investasi asing langsung di Indonesia, dengan realisasi investasi mencapai 7,5 miliar dolar AS pada tahun lalu.
Peneliti di Crawford School of Public Policy, Australian National University (ANU), Firman Witoelar, mengungkapkan Indonesia telah menarik investasi China dalam jumlah besar, tetapi sebagian besar berada di sektor pengolahan, termasuk baterai dan kendaraan listrik, sedangkan investasi manufaktur berorientasi ekspor justru mengalir ke negara-negara jiran RI.