"Namun, dalam gelombang berikutnya, termasuk industri yang melibatkan tenaga kerja, kendaraan listrik, dan pengolahan makanan, masih terbuka. Apakah Indonesia mampu memanfaatkan peluang tersebut bergantung pada ketepatan kebijakan yang diterapkan? Ini merupakan peluang bagi investor China maupun Indonesia," kata Firman dalam acara yang sama.

Ia juga menyoroti soal Danantara yang berpotensi menjadi mitra besar dalam proyek-proyek berjangka panjang. Namun, lembaga tersebut juga dapat menjadi pesaing dalam aktivitas bisnis, bahkan terkadang di sektor yang sama.

Selain itu, meski ruang fiskal telah menyempit akibat berbagai program unggulan pemerintah, tapi bank-bank memiliki permodalan yang baik, utang publik rendah, dan inflasi terkendali sehingga tidak ada krisis yang akan segera terjadi.

Peningkatan investasi pemerintah ke berbagai ranah yang tadinya dilakukan perusahaan swasta, menurut Firman, kemungkinan akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap tersingkirnya investasi swasta daripada manfaat yang diharapkan dari peningkatan investasi tersebut.

"Kesimpulannya, di manakah posisi Indonesia saat ini? Indonesia memiliki fondasi keuangan yang kuat, pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang melimpah, tidak ada alasan untuk beranggapan bahwa Indonesia tidak mampu pulih dari berbagai guncangan eksternal tersebut. Namun, kekhawatiran saat ini berkaitan dengan arah perjalanan Indonesia, yaitu kecenderungan perkembangannya," kata Firman.

Forum bertema "Indonesia dalam Masa Transisi: Pembangunan, Masyarakat, dan Tatanan Regional" itu dihadiri sekitar 50 orang akademisi dari berbagai kampus baik dari Indonesia, China, Australia dan negara lain serta akan membahas empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu politik, ekonomi, masyarakat, dan hubungan regional.