Dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada April 2024 berjudul 'Impacts of Fire and Prospects for Recovery in a Tropical Peat Forest Ecosystem' peneliti mengungkap dampak kebakaran terhadap ekosistem hutan gambut tropis di Indonesia.
Studi tersebut menganalisis data ekosistem dan keanekaragaman hayati selama 16 tahun. Hasilnya menunjukkan hutan yang terbakar mengalami penurunan kualitas struktur habitat, kepadatan pohon, dan tutupan tajuk sekitar 58-98% dibandingkan hutan yang tidak terbakar.
Penurunan keanekaragaman dan kelimpahan spesies juga terlihat pada sejumlah kelompok organisme, terutama pohon, capung jarum, dan kupu-kupu. Dampak paling menonjol ditemukan pada spesies yang bergantung pada habitat hutan.
Penelitian itu juga menemukan bahwa beberapa indikator ekosistem menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam kurun waktu 12 tahun. Namun, kebakaran berulang berisiko menghambat atau membalikkan proses pemulihan tersebut.
Studi ini dilakukan pada ekosistem gambut tropis di Indonesia, bukan di Papua. Meski demikian, hasilnya memberikan gambaran ilmiah mengenai konsekuensi kebakaran berulang terhadap struktur hutan dan keanekaragaman hayati.
Dampak karhutla terhadap keanekaragaman hayati pada akhirnya tidak bisa hanya diukur dari luas vegetasi yang terbakar atau jumlah pohon yang rusak. Keutuhan ekosistem juga ditentukan oleh kemampuan habitat menyediakan makanan, tempat berlindung, lokasi berkembang biak, serta menjaga hubungan antara berbagai organisme di dalamnya.
Pada ekosistem lahan basah, perubahan vegetasi dan kondisi perairan juga berpotensi memengaruhi organisme akuatik yang menjadi bagian dari rantai makanan.
Karena itu, upaya penanganan karhutla perlu diikuti pemantauan kondisi ekosistem dan pemulihan habitat setelah kebakaran. Pengawasan kawasan yang rawan terbakar, perlindungan habitat satwa, serta restorasi vegetasi menjadi bagian penting untuk menjaga keanekaragaman hayati Papua.