Teknologi pengolahan limbah menggunakan black soldier fly sudah diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk desa dan kota di Uganda serta Malawi. Pendekatan tersebut mengubah limbah organik dari masalah menjadi sumber daya, sekaligus mengurangi jumlah bahan organik yang masuk ke TPA.
Masalah limbah makanan kini menjadi perhatian internasional. PBB menetapkan 29 September sebagai Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Pemborosan Pangan.
Lebih dari 60 negara juga telah berkomitmen melalui *Declaration on Reducing Methane from Organic Waste untuk memangkas emisi metana dari sektor sampah sebesar 30-35% dibandingkan level 2020 pada 2030. Salah satu caranya adalah mencegah limbah organik masuk ke TPA dan mengolahnya menjadi kompos atau biogas.
"Mempercepat upaya pencegahan limbah makanan secara internasional dapat menghasilkan pengurangan metana yang signifikan, bahkan dalam dekade ini," kata Krause.
"Berfokus pada makanan adalah salah satu cara termudah dan tercepat untuk mengatasi pemanasan, dan manfaatnya bagi iklim bisa sangat besar. Namun, untuk memanfaatkan peluang ini sepenuhnya, kita harus bergerak lebih cepat," tegasnya.
Pada akhirnya, makanan yang terbuang bukan hanya berarti uang dan sumber daya yang sia-sia. Setiap makanan yang diproduksi membutuhkan air, lahan, energi, transportasi, dan tenaga manusia sebelum sampai ke meja makan. Ketika makanan tersebut berakhir di TPA dan membusuk, persoalannya bertambah, limbah tersebut dapat berubah menjadi sumber emisi metana.
Karena itu, mengurangi makanan yang terbuang sejak dari rumah, restoran, supermarket, hingga rantai pasok bukan sekadar kebiasaan hidup hemat. Hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi salah satu sumber gas rumah kaca yang paling kuat.