Ia menyebut, hampir 60 persen masyarakat Lampung berkaitan dengan ketiga komoditas tersebut, sehingga perubahan harga dan biaya produksi pertanian memiliki pengaruh luas terhadap perekonomian daerah.
"Semenjak Pak Prabowo menjadi presiden, harga pupuk murah, kemudian harga komoditas jadi ikut naik, padi naik, jagung naik, singkong naik," ujarnya.
Menurutnya, perbaikan kondisi sektor pertanian turut diikuti oleh peningkatan sejumlah indikator konsumsi masyarakat.
"Petani-petani di sini alhamdulillah mendapatkan kejadian yang sangat luar biasa. Investasi yang salah satunya adalah tingkat konsumsi. Kami melihat indikator-indikator konsumsi dari provinsi Lampung, yang pertama itu pembelian mobil," tutur Rahmat.
Data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mencatat jumlah kendaraan bermotor baru pada semester I 2026 mencapai 83.515 unit, naik 22,15 persen dibandingkan 68.370 unit pada semester I 2025.
Kenaikan juga terlihat pada kendaraan roda dua yang bertambah 19,90 persen, dari 62.464 unit menjadi 74.892 unit. Sementara, kendaraan roda empat meningkat 22,15 persen secara agregat, dari 5.906 unit menjadi 7.213 unit berdasarkan penjumlahan kategori kendaraan roda empat pada data tersebut.
"Pembelian kendaraan di kabupaten-kabupaten pertanian meningkat. Kami juga melihat indikator konsumsi lain yang tumbuh. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi di wilayah pertanian bergerak," ujar Rahmat.
Data tersebut menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi masyarakat, meskipun peningkatan pembelian kendaraan diakui tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kenaikan berasal dari pendapatan petani atau kebijakan pertanian.