Dalam kondisi kebakaran hutan, hewan-hewan tersebut kehilangan tempat tinggalnya. Selain kobaran api, kebakaran mengakibatkan panas, asap, perubahan kondisi tanah, dan pengurangan vegetasi yang mengganggu keberlangsungan hidup mereka.
Kondisi tersebut berpotensi menghilangkan tempat berlindung, bersarang, berkembang biak, maupun mencari makan bagi berbagai jenis hewan yang sebelumnya juga telah berkurang signifikan akibat deforestasi untuk keperluan komersil.
Damianus V.S. Woghomugu dan Hermanus Warmetan dari Universitas Papua yang meneliti pentingnya pengelolaan kawasan lahan basah Taman Nasional Wasur sebagai habitat burung migran, mengungkap bahwa kerusakan satu bagian habitat memengaruhi fungsi ekologis kawasan secara lebih luas.
Selain itu, kondisi kebakaran hutan yang berulang dari tahun ke tahun juga perlu menjadi perhatian karena ekosistem hutan membutuhkan waktu untuk memulihkan vegetasi dan fungsi ekologisnya setelah mengalami kebakaran.
Pada ekosistem lahan basah, perubahan vegetasi dan kondisi perairan juga berpotensi memengaruhi ekosistem ikan kecil, serangga, dan organisme akuatik yang menjadi bagian dari rantai makanan. Oleh karena itu, para pakar menilai perlu upaya pemantauan kondisi ekosistem dan pemulihan habitat setelah kebakaran.