"Terkait polemik yang berkembang, Kemenag mencermati aspirasi dan respons masyarakat. Kami pun menghormati peran MUI sebagai mitra pemerintah dalam membimbing umat. Harapannya, ruang dakwah dan majelis keagamaan tetap menjadi ruang yang menyejukkan, mendidik, serta memperkuat penghormatan terhadap sesama," ungkapnya.
Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis sebelumnya menilai isi materi ceramah yang disampaikan Habib Alwi tidak mencerminkan etika dan keteladanan seorang dai. Menurutnya, narasi yang dibawakan justru berpotensi merusak citra dakwah Islam serta moral masyarakat.
"Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya," tegas Kiai Cholil Nafis melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya @cholilnafis, dikutip dari laman MUI, Selasa (20/10/2026).
Rais Syuriah PBNU ini menekankan bahwa terlepas dari status sosial atau latar belakang yang melekat pada penceramah, penyampaian dakwah yang melanggar nilai kesantunan tidak dapat ditoleransi.
"Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam," ujar Cholil.