NADIKABAR.COM — Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta seluruh umat Islam di Indonesia untuk memboikot dan tidak lagi mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf sebagai penceramah setelah ceramahnya viral dan dinilai merendahkan martabat perempuan. Apa kata Kementerian Agama?

"Dalam Islam, selain berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, dakwah juga memberikan keteladanan melalui tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW adalah rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan," kata Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar kepada wartawan, Rabu (21/10/2026).

Pihaknya mengingatkan setiap dai untuk menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah. Ia menekankan ceramah tak seharusnya merendahkan atau melukai martabat orang lain.

"Karena itu, setiap penceramah atau dai yang berbicara di ruang publik hendaknya senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk dalam menggunakan humor agar tidak merendahkan atau melukai martabat orang lain," ujarnya.

Terkait sikap MUI yang meminta masyarakat memboikot Habib Alwi, Kemenag mengatakan akan menghormati sikap MUI. Kemenag pun berharap dakwah menjadi ruang yang mendidik dan menyejukkan umat.

"Terkait polemik yang berkembang, Kemenag mencermati aspirasi dan respons masyarakat. Kami pun menghormati peran MUI sebagai mitra pemerintah dalam membimbing umat. Harapannya, ruang dakwah dan majelis keagamaan tetap menjadi ruang yang menyejukkan, mendidik, serta memperkuat penghormatan terhadap sesama," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis sebelumnya menilai isi materi ceramah yang disampaikan Habib Alwi tidak mencerminkan etika dan keteladanan seorang dai. Menurutnya, narasi yang dibawakan justru berpotensi merusak citra dakwah Islam serta moral masyarakat.

"Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya," tegas Kiai Cholil Nafis melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya @cholilnafis, dikutip dari laman MUI, Selasa (20/10/2026).

Rais Syuriah PBNU ini menekankan bahwa terlepas dari status sosial atau latar belakang yang melekat pada penceramah, penyampaian dakwah yang melanggar nilai kesantunan tidak dapat ditoleransi.

"Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam," ujar Cholil.

Gelombang kritik publik bermula dari unggahan rekaman video yang viral di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, sosok yang diidentifikasi warganet sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf itu awalnya membicarakan tarif ceramahnya yang diklaim paling rendah mencapai Rp 75 juta.

Suasana kian memicu polemik saat sang penceramah mulai melemparkan kelakar yang menyasar para santri perempuan dan jemaah lanjut usia. Secara terbuka di hadapan jemaah, ia meminta santriwati untuk dihadirkan karena berniat mencari calon istri keempat.

"Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat," kata pendakwah dalam rekaman tersebut.

Tak berhenti di situ, ia juga melontarkan pernyataan yang dinilai melecehkan emak-emak berusia di atas 60 tahun yang hadir dalam majelisnya.

"Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda," kelakarnya.