Menurut Nurul, program tersebut dapat menjadi ruang bagi pemuda dan aktivis masjid untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan kemasjidan.

“Berbagai program tersebut dapat menjadi bagian dari strategi untuk menghidupkan masjid sekaligus membuka ruang keterlibatan pemuda dan aktivis masjid,” ujarnya.

Kementerian Agama juga memberikan perhatian kepada masjid yang terdampak bencana melalui penyaluran bantuan dan penentuan wilayah prioritas sesuai kebutuhan. Pemuda dan aktivis masjid dapat dilibatkan dalam kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat di wilayah terdampak.

Sejumlah masjid, seperti Masjid Jogokariyan di Yogyakarta dan Masjid Agung Sunda Kelapa di Jakarta, juga dapat menjadi contoh praktik pengelolaan masjid yang dipelajari. Penguatan kaderisasi remaja masjid dinilai penting agar keterlibatan generasi muda dapat berlangsung secara berkelanjutan.