NADIKABAR.COM — Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mendorong peningkatan kinerja ekspor nonmigas serta memangkas defisit perdagangan dengan China. Hal itu dilakukan melalui kemitraan bisnis yang produktif, berorientasi jangka panjang, dan saling menguntungkan.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri menilai, Indonesia dan China telah memiliki fondasi perdagangan yang kuat. Hal tersebut menjadi dasar untuk membawa hubungan dagang kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi melalui kemitraan yang produktif, inovatif, dan berorientasi masa depan.
Menurut Roro, kehadiran para pelaku usaha dalam forum tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap potensi ekonomi Indonesia, sekaligus menunjukkan hubungan perdagangan kedua negara memiliki ruang yang sangat luas untuk terus dikembangkan.
"Kami berharap forum ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga menjadi awal dari kemitraan bisnis yang saling menguntungkan, berkelanjutan, dan mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara," ujar Roro dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).
Hal tersebut disampaikan Roro saat memberikan sambutan kunci Forum Bisnis Wilayah China dalam rangkaian penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (15/10).
Menurut Roro, keragaman sektor yang menyumbangkan angka pada MoU tersebut menjadi representasi kesiapan Indonesia untuk terus melakukan diversifikasi ekspor dengan China.
Indonesia Perluas Peluang Ekspor ke Pasar China
Roro menuturkan Indonesia memiliki jajaran produk unggulan berdaya saing tinggi yang siap memenuhi kebutuhan pasar China. Produk-produk tersebut meliputi sektor pertanian dan pangan olahan, kopi, kakao, rempah-rempah, hasil perikanan, hingga produk manufaktur dan komoditas bernilai tambah lainnya.
Selain perdagangan komoditas, Indonesia juga mendorong pengembangan kemitraan yang lebih luas dan strategis. Langkah ini mencakup penguatan rantai pasok, kerja sama industri, transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas produksi, serta pengembangan produk yang disesuaikan dengan tren dan kebutuhan konsumen di China.
"Bagi Indonesia, hubungan perdagangan tidak semata diukur dari besarnya nilai transaksi, tetapi bagaimana hubungan tersebut menciptakan peluang usaha, memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," tegas Roro.
Pada penyelenggaraan ke-41 ini, TEI mengusung tema 'The Ultimate Hub for Global Sourcing'. Tema tersebut mencerminkan komitmen Indonesia untuk memposisikan diri sebagai pusat pengadaan produk internasional yang berkualitas, kompetitif, dan dapat diandalkan.
Roro menjelaskan TEI dirancang bukan sekadar menjadi pameran produk biasa, melainkan platform strategis untuk mempertemukan penawaran dan permintaan, membuka akses pasar, serta merealisasikan kesepakatan bisnis yang konkret.
"Kami ingin memastikan produk Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga dipercaya dan menjadi bagian dari pilihan pengadaan jangka panjang perusahaan-perusahaan di Tiongkok. Kami mengundang para buyer Tiongkok untuk melihat lebih dekat potensi produk Indonesia dan mempertimbangkan Indonesia sebagai mitra strategis dalam mengembangkan jaringan usaha," tutur Roro.
Roro menggarisbawahi fondasi utama perdagangan yang kuat yaitu kepercayaan yang tumbuh secara konsisten melalui kualitas produk, pemenuhan komitmen, dan pemahaman atas kebutuhan mitra.
Lebih lanjut, kehadiran para pelaku usaha tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap potensi ekonomi Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa hubungan perdagangan kedua negara memiliki ruang yang sangat luas untuk terus dikembangkan.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia Beijing, Djauhari Oratmangun menyampaikan keberadaan pelaku usaha Indonesia menjadi ujung tombak dalam keberhasilan diplomasi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah.
"Dampak diplomasi harus hadir sampai di meja makan kita dan hal tersebut dibuktikan dari penandatanganan nota kesepahaman dalam forum hari ini. Hadirnya 900 buyer potensial dari Tiongkok dalam TEI 2026 ini merupakan representasi kinerja nyata diplomasi Indonesia yang dijalankan, baik oleh kalangan pemerintah maupun swasta. Kami proyeksikan banyak kerja sama konkret yang bisa tercipta dalam beberapa hari ke depan," kata Djauhari.
Pada gelaran forum bisnis ini, dilakukan pula penandatanganan sejumlah nota kesepahaman (MoU), dari sektor investasi, pendidikan, besi baja, boga bahari, dan industrial. Total nilai yang dibukukan mencapai US$ 3,8 miliar.