NADIKABAR.COM β€” Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengatakan diperlukan pendekatan khusus atau asimetris untuk mengatasi persoalan pelayanan kesehatan di daerah tertinggal, seperti keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Kemendes PDT Samsul Widodo mengatakan pendekatan tersebut diperlukan karena kondisi geografis dan tantangan pelayanan kesehatan di daerah tertinggal berbeda dengan wilayah lain.

β€œAsimetris, pendekatan-pendekatan apa yang tidak biasa yang bisa menyelesaikan persoalan kesehatan di daerah tinggal," kata Samsul ketika menyampaikan pidato kunci dalam Simposium Nasional Inventaris Masalah Kesehatan di Daerah Tertinggal (SINTESA) yang digelar Kemendes PDT berkolaborasi dengan Universitas Indonesia, seperti diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut, Samsul menjelaskan bahwa akses masyarakat di daerah tertinggal terhadap fasilitas kesehatan masih menghadapi berbagai kendala. Ia mengatakan jarak menuju fasilitas kesehatan terdekat di daerah tertinggal rata-rata mencapai hampir 25 kilometer, sedangkan di daerah yang tidak tergolong tertinggal sekitar lima kilometer.

Selain jarak, ketersediaan dokter, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya juga menjadi persoalan di sejumlah wilayah, termasuk Papua.

Samsul mencontohkan kondisi di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, yang menghadapi keterbatasan persebaran dokter di sejumlah distrik. Situasi tersebut, kata dia, menuntut adanya pendekatan khusus agar masyarakat tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan meskipun tinggal jauh dari fasilitas medis.

Menurut dia, salah satu hal yang perlu dipikirkan ialah pendekatan yang dapat membantu masyarakat mencegah penyakit ketika akses terhadap tenaga kesehatan sangat terbatas.

Berikutnya, dia juga mengemukakan perlunya menggali kembali praktik yang sesuai dengan kondisi lokal, seperti pemanfaatan tanaman obat keluarga, sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat di wilayah yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan.

Melalui simposium itu, Samsul berharap muncul gagasan baru untuk mengatasi persoalan kesehatan di daerah tertinggal dengan mempertimbangkan kondisi geografis, sosial, dan keterbatasan sumber daya setempat.