NADIKABAR.COM β Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menjadi terobosan pemerintah untuk memetakan kemampuan akademik siswa secara objektif melalui pengukuran terstandar secara nasional.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati di Jakarta pada Rabu mengatakan TKA berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur capaian pembelajaran siswa dengan standar yang sama di seluruh Indonesia, sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran lebih objektif mengenai kemampuan akademik peserta didik.
βKurikulumnya sama dari Sabang sampai Merauke, target pembelajarannya juga seragam. Nah, lewat TKA ini kita mau lihat, seberapa jauh hasilnya? Dulu memang ada pengukuran, tapi sifatnya subjektif karena standarnya beda-beda tergantung sekolah atau guru yang mengajar,β ujar Rahmawati.
Ia menjelaskan TKA dirancang untuk memberikan gambaran capaian pembelajaran siswa yang dapat dibandingkan berdasarkan standar nasional, berbeda dengan penilaian yang selama ini bergantung pada standar masing-masing sekolah atau guru.
Rahmawati juga mengatakan sertifikat hasil TKA dapat dimanfaatkan siswa sebagai dokumen pendukung untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun menghadapi persaingan di dunia kerja.
Dalam pelaksanaannya TKA menggunakan sistem berbasis komputer dengan variasi soal yang dirancang untuk mengukur pemahaman serta kemampuan siswa dalam mengolah informasi dan menerapkan pengetahuan.
"Belajar itu levelnya harus sampai paham, bisa mempraktikkannya, dan mampu bernalar. Pola pikir itulah yang ingin kami bawa lewat TKA ini," kata Rahmawati.
Sesuai jadwal, pelaksanaan TKA akan dilakukan pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, disusul sesi ujian susulan pada 16 hingga 29 November 2026.
Sementara itu Kepala SMA Negeri 56 Jakarta, Dewi Retno Lestari mengungkapkan tantangan terbesar bagi siswa bukanlah sekadar pada konten materi, melainkan pada ketahanan membaca dan literasi berlapis.
"Karena dari soal TKA itu, anak itu harus tahan dulu membaca stimulusnya. Nah, ketika siswa sudah memiliki ketahanan membaca, maka dari situ dia bisa langsung menarik informasi, dia bisa mengekstrak,β katanya.
Dewi juga menyoroti pentingnya menjaga psikologis siswa agar tidak memandang TKA sebagai ancaman. Pihak sekolah rutin menggelar pendampingan khusus setiap hari Jumat.
Melalui forum mingguan itu, anak-anak mulai diakrabkan dengan model soal multiple choice multiple answer, yaitu jenis pilihan ganda yang jawaban benarnya bisa lebih dari satu.