Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Airport Contingency Exercise (ACE) yang diinstruksikan oleh Unit Aviation Security (Avsec) bersama seluruh Komite Keamanan Bandar Udara.
Melalui kedua simulasi tersebut, setiap unsur yang terlibat menguji kemampuan dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing, termasuk mekanisme komunikasi, koordinasi, pengambilan keputusan, serta mobilisasi sumber daya dalam menghadapi kondisi darurat di bandar udara.
I Kadek menambahkan, keterlibatan berbagai instansi dalam latihan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan penanganan keadaan darurat yang membutuhkan respons secara terpadu.
"Penanganan keadaan darurat di bandar udara membutuhkan kerja sama dan koordinasi lintas instansi. Karena itu, melalui latihan bersama ini kami ingin memastikan setiap pihak memahami peran, tugas, dan tanggung jawabnya sehingga ketika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya, respons dapat dilakukan secara terpadu dan efektif," jelasnya.
Latihan ini melibatkan berbagai pihak, di antaranya direktorat teknis di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Samarinda, TNI/Polri yang terdiri dari Lanud Dhomber Balikpapan, Polresta Samarinda dan Kodim 0901/Samarinda, Badan Intelijen Negara (BIN), Imigrasi, Bea dan Cukai, Kekarantinaan, BMKG, AirNav Indonesia, serta perwakilan maskapai yang beroperasi di Bandar Udara APT Pranoto.