Secara kewilayahan, Kalimantan Tengah mencatat dampak tertinggi dengan 201 penerbangan terdampak, terdiri atas 79 delay, 121 cancelled/postponed, dan 1 diverted.
Selanjutnya, Kalimantan Timur mencatat 138 penerbangan terdampak, terdiri atas 48 delay, 77 cancelled/postponed, dan 13 diverted. Sementara Kalimantan Utara mencatat 70 penerbangan terdampak, terdiri atas 14 delay dan 56 cancelled/postponed.
Kondisi jarak pandang terendah selama periode tersebut tercatat mencapai 50 meter di beberapa bandar udara, antara lain Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi operasional penerbangan karena setiap penerbangan harus memenuhi ketentuan keselamatan dan batas minimum operasional yang berlaku.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan pada 21 September 2026, dampak kondisi asap Karhutla juga terjadi di sejumlah bandar udara di Kalimantan Barat oleh Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama.
Di Bandara Supadio, Pontianak, sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan dengan durasi antara 42 hingga 195 menit. Selain itu, terdapat penerbangan yang dibatalkan karena kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.
Pada pukul 21.30 WIB, Bandara Supadio berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.100 meter.
Di Bandara Rahadi Oesman, Ketapang, terdapat penerbangan yang mengalami keterlambatan akibat kondisi cuaca. Sementara itu, di Bandara Singkawang, terdapat beberapa penerbangan yang dibatalkan karena alasan operasional. Bandara tetap berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.000 meter.