Bersamaan dengan tindakan tersebut, petugas mengumpulkan bahan keterangan dan informasi lapangan untuk mengidentifikasi asal kayu, aktivitas yang terjadi di dalam kawasan, serta pihak-pihak yang diduga terlibat.

Hari menambahkan, penyelidikan juga diarahkan untuk melihat kemungkinan keterkaitan dengan perkara pembalakan liar yang sebelumnya ditangani pada lokasi berbeda, namun masih berada di kawasan TN Berbak dan Sembilang.

Kesamaan pola penggunaan rel kayu ini menjadi petunjuk yang kami dalami untuk melihat apakah terdapat keterkaitan dengan perkara sebelumnya.

"Kami akan menelusuri asal kayu, pihak yang melakukan penebangan dan pengolahan, pihak yang membangun dan menggunakan rel, hingga pihak yang akan menerima atau memperoleh keuntungan dari kayu tersebut. Pengembangannya akan mengikuti fakta dan bukti yang ditemukan," tegas Hari.

Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Yunaidi, menegaskan bahwa temuan pada beberapa lokasi menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pengamanan kawasan, terutama pada titik dan jalur yang memiliki kerawanan terhadap pembalakan lebih intersif.

Temuan ini menunjukkan ada bagian kawasan yang membutuhkan pengawasan memprioritaskan titik-titik rawan serta akses yang berpotensi digunakan untuk masuk dan mengeluarkan hasil hutan.

"Pelibatan masyarakat di sekitar kawasan juga akan terus diperkuat agar informasi mengenai potensi gangguan dapat diketahui dan ditindaklanjuti lebih awal" ujar Yunaidi