NADIKABAR.COM — Kementerian Kesehatan mengatakan, oseltamivir bukan obat yang bisa diminum oleh semua orang atau diminum sebagai antisipasi influenza tanpa penilaian medis, sehingga masyarakat dihimbau tidak melakukan panic buying.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia di Jakarta, Senin, menyampaikan hal tersebut merespons meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan sulitnya memperoleh obat antivirus oseltamivir di sejumlah rumah sakit.
"Kekhawatiran ini terutama disebabkan karena informasi mengenai peningkatan kasus beredar cepat di media sosial dan adanya info perbedaan ketersediaan obat di antara berbagai wilayah. Namun kami ingin memastikan bahwa masyarakat dapat memperoleh informasi yang tepat dan tidak mengambil tindakan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi," katanya.
Rizka menyebutkan, publik tidak perlu melakukan panic buying karena sebagian besar kasus influenza tanpa tanda bahaya dapat ditangani secara mandiri dan dapat membaik dengan istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan atau minum yang cukup untuk mencegah dehidrasi dan sesak nafas.
"Sehingga tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau oseltamivir ini. Jika menunjukkan tanda bahaya, segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat," katanya.
Dia juga mengingatkan bahwa oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Pengobatan influenza diutamakan untuk mengobati gejala yang timbul dengan tetap memperhatikan kondisi pasien.
"Juga tidak kami sarankan menggunakan antibiotik jika tidak terdapat infeksi sekunder lainnya," katanya.
Oseltamivir perlu diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama pada pasien dengan influenza yang terkonfirmasi berat dan dirawat di rumah sakit, kemudian pasien dengan komorbiditas, atau pasien dengan resiko komplikasi terutama pada anak di bawah 2 tahun, pasien lansia di atas 65 tahun juga ibu hamil.
"Pemerintah akan memastikan ketersediaan obat untuk pasien yang membutuhkan. Sekali lagi, untuk pasien yang membutuhkan, Kementerian Kesehatan telah mengupayakan ketersediaan obat tersebut melalui percepatan importasi dan distribusi," katanya.
Pihaknya melakukan percepatan distribusi oseltamivir sesuai kebutuhan RS. Saat ini sudah dilakukan distribusi ke sekitar 196 rumah sakit dan akan terus dilakukan distribusi berdasarkan kebutuhan. Selain itu, Kemenkes terus melakukan perencanaan untuk pengadaan oseltamivir ini berdasarkan data surveilans.
"Kami melakukan pengadaan oseltamivir dengan berbagai sumber, baik melalui produksi di dalam negeri maupun importasi dengan jalur khusus untuk mengatasi keterlambatan produksi di dalam negeri yang belum bisa memenuhi sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat," katanya.
Rizka mengimbau publik untuk melakukan lima langkah sederhana.
"Pertama, jangan membeli atau menyimpan oseltamivir tanpa resep dokter dan tanpa kebutuhan medis yang telah ditentukan oleh dokter. Yang kedua, jangan menggunakan obat milik orang lain. Jangan menggandakan dosis dan jangan menghentikan atau melanjutkan terapi tanpa berkonsultasi pada tenaga kesehatan," katanya.
Yang ketiga, penggunaan oseltamivir yang tidak sesuai indikasi medis dalam jangka panjang akan menyebabkan munculnya virus influenza yang kurang sensitif atau yang dikenal sebagai resisten terhadap antivirus (antimicrobial resistance/AMR).
Keempat, gunakan sumber informasi resmi dari Kementerian Kesehatan, dari dinas kesehatan, dari rumah sakit, puskesmas dan jangan menyebarkan klaim bahwa influenza A pasti berat dan bahwa setiap demam pasti memerlukan antivirus.
Kelima, melakukan pemeriksaan jika terdapat gejala berat, memburuk atau terjadi kelompok berisiko. Jangan mengobati sendiri, dan berkonsultasilah kepada tenaga kesehatan yang tepat.