NADIKABAR.COM — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut perlunya strategi berkelanjutan guna menjaga kesehatan gigi dan mulut lansia, mengingat hal tersebut berkaitan erat dengan risiko demensia.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes dr. Imran Pambudi mengatakan di Jakarta, Rabu, masalah gigi dapat menurunkan asupan gizi, memperburuk kesehatan tubuh, mempercepat penurunan fungsi kognitif dan mempengaruhi estetika sehingga mempengaruhi kepercayaan diri.

"Proporsi usia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen dan diproyeksikan hampir 20 persen pada 2045. Bersamaan dengan itu, jumlah orang dengan demensia diperkirakan melonjak dari 1,2 juta pada 2016 menjadi 4 juta pada 2050," katanya.

Sementara itu, Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah telah menjangkau lebih dari 12 juta lansia hingga September 2026. Dari jumlah itu, 2.406.004 lansia menjalani pemeriksaan kognitif, hasilnya 30 persen terdeteksi mengalami gangguan kognitif.

"Lansia dengan masalah gigi menempati 3 besar masalah kesehatan yang ditemukan saat CKG. Angka ini menegaskan bahwa kesehatan gigi dan mulut tidak bisa dipisahkan dari kesehatan otak," kata Imran.

Kemudian, Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mengungkapkan bahwa pada kelompok usia 65 tahun ke atas, 43,6 persen mengalami gigi rusak atau sakit; 46,5 persen kehilangan gigi; 14,4 persen gigi goyah; dan 10,9 persen gigi sensitif.

Dia menjelaskan, lansia dengan gigi sehat lebih mudah makan, lebih percaya diri, dan lebih aktif berinteraksi-semua faktor yang membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.

Penelitian global pun menunjukkan bahwa infeksi gusi kronis dan kesulitan mengunyah berkaitan dengan meningkatnya risiko demensia.

Imran menilai, menjaga kesehatan lansia bukan hanya soal memperpanjang usia, tetapi juga memastikan mereka tetap aktif, mandiri, dan bermartabat.

Demensia bukan hanya persoalan lansia, tetapi juga keluarga dan caregiver. Generasi Y dan Z yang berada dalam posisi sandwich generation sering kali harus merawat orang tua dengan demensia sambil tetap bekerja dan mengurus keluarga. Beban ini kerap tidak terlihat, dan risiko burnout meningkat ketika kebutuhan merawat diri sendiri diabaikan.

Karena itu, katanya, menjaga kesehatan gigi lansia adalah langkah sederhana yang bisa meringankan beban perawatan. Lansia dengan gigi sehat lebih jarang mengalami malnutrisi, lebih percaya diri, dan lebih lambat mengalami penurunan kognitif.

"Caregiver yang memahami hal ini dapat membantu dengan memastikan lansia rutin menyikat gigi, melakukan pemeriksaan berkala, dan segera mencari bantuan tenaga kesehatan bila ada masalah," katanya.

Menurutnya, momentum Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional serta World Alzheimer’s Month pada September mengingatkan kita bahwa senyum sehat lansia bukan hanya soal penampilan. Senyum sehat berarti gigi dan mulut terjaga, nutrisi terpenuhi, interaksi sosial tetap hidup, dan otak terlindungi dari risiko demensia.

"Menjaga kesehatan gigi sepanjang hayat adalah bagian dari strategi healthy ageing. Dengan deteksi dini, kebijakan berbasis siklus hidup, serta dukungan berkelanjutan bagi caregiver, kita dapat memastikan lansia Indonesia tetap bermartabat, aktif, dan sehat—dengan senyum yang mencerminkan kualitas hidup dan kesehatan otak yang terjaga," katanya.