NADIKABAR.COM — Kementerian Pariwisata mengoptimalkan potensi pasar wisatawan domestik berdaya beli tinggi (affluent travelers) melalui penyelenggaraan "Nusantara Luxury Exchange: Premium Business Matching".
,"Fokus utama kami bukan lagi sekadar mengejar volume perjalanan, melainkan meningkatkan nilai belanja wisatawan nusantara per perjalanan," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Made menjelaskan wisatawan berdaya beli tinggi merupakan golongan pelancong yang mengutamakan kenyamanan dan pengalaman perjalanan eksklusif.
Melalui forum bisnis yang diselenggarakan pada Rabu (28/10) di Hotel Majapahit, Surabaya itu, Kementerian Pariwisata mempertemukan 12 penyedia layanan pariwisata premium Indonesia dengan agen perjalanan, layanan pramutamu mewah, perbankan prioritas, serta perencana korporat.
"Kami ingin mengalihkan sebagian belanja leisure outbound dari pasar affluent menjadi belanja pariwisata domestik. Indonesia memiliki kekayaan destinasi kelas dunia yang sangat luar biasa, kini tugas kita bersama adalah mengemas dan menyajikannya sebagai produk eksklusif berkualitas tinggi yang mudah dipilih dan dibeli," ujar Made.
Kegiatan tersebut dirancang untuk menangkap peluang dari besarnya pasar wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Berdasarkan data BPS tahun 2025, tercatat 9,16 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri dengan rata-rata pengeluaran mencapai 1.875 dolar AS (Rp 33,95 juta) per perjalanan. Lebih dari 50 persen perjalanan tersebut bertujuan untuk berlibur.
Pemilihan Surabaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan kali ini, katanya, mempertimbangkan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,87 persen pada 2025, melampaui rata-rata nasional.
Surabaya juga memiliki posisi strategis dengan dukungan Bandara Internasional Juanda sebagai pintu gerbang perjalanan wisatawan menuju berbagai destinasi Nusantara.
Dalam forum tersebut, sebanyak 12 penyedia layanan pariwisata eksklusif, mulai dari resort mewah, operator kapal pinisi, hingga penyedia pengalaman gastronomi premium, memperkenalkan produk unggulan yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni bahari, kebugaran dan gastronomi.
Penawaran tersebut mengedepankan keistimewaan, keaslian budaya, serta privasi bagi wisatawan.
Made mengatakan, segmen wisata mewah memiliki potensi besar dalam meningkatkan kontribusi ekonomi lokal sekaligus mendukung kampanye nasional #DiIndonesiaAja.
Melalui sesi Exclusive B2B Table Top, forum ini diharapkan menghasilkan penawaran harga, pemesanan langsung, hingga kemitraan berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi bagi industri pariwisata nasional.
Luxury tourism saat ini telah mengalami redefinisi. Kemewahan bukan lagi sebatas fasilitas megah, melainkan keunikan pengalaman yang personal, privasi, serta keterikatan dengan budaya dan ekonomi lokal.
"Kami optimistis forum business matching ini tidak hanya melahirkan transaksi konkret dan kemitraan jangka panjang, tetapi juga mengukuhkan persepsi bahwa pengalaman wisata kelas dunia berskala internasional sepenuhnya dapat dinikmati di dalam negeri," kata Made.