NADIKABAR.COM — Kementerian Pariwisata menyampaikan bahwa pemerataan perjalanan wisatawan semakin baik dan tidak hanya terfokus pada Bali atau kota-kota besar lainnya pada 2 tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam Laporan Capain Dua Tahun Sektor Pariwisata yang diterima di Bali, Selasa.
Pada triwulan I 2026, Kawasan Manado-Likupang, Sulawesi Utara, dan Danau Toba, Sumatera Utara, mencatatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara yang sangat tinggi, masing-masing meningkat sebesar 60,42 persen dan 33,40 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Dari sisi pertumbuhan tercepat wisatawan nusantara antara tahun 2025 hingga 2026, Danau Toba kembali memimpin dengan lonjakan signifikan sebesar 106,68 persen, disusul oleh Lombok-Gili Tramena, Nusa Tenggara Barat, yang tumbuh sebesar 75,45 persen.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyatakan sektor pariwisata telah memberikan manfaat dalam jangka panjang dan harus tumbuh dengan kualitas.
Hal itu ditujukan untuk membuat wisatawan selalu merasa aman, memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan destinasi yang bersih, serta pelaku usaha juga membutuhkan persaingan yang sehat dan aturan yang adil.
Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata melakukan berbagai upaya agar ekosistem pariwisata semakin tertata. Hingga 23 September 2026, jumlah unit usaha akomodasi jangka pendek yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) mencapai 113.692 unit, bertambah 44.852 usaha atau meningkat 65,2 persen dibandingkan 31 Maret 2025 saat Kementerian Pariwisata memulai program tersebut.
Kementerian Pariwisata melakukan peninjauan lapangan dan pembinaan pelaku usaha di tujuh provinsi di Indonesia. Kementerian Pariwisata juga menjalin kemitraan dengan sembilan agen perjalanan daring (OTA) dalam sosialisasi dan penerapan kebijakan termasuk delisting.
Sebanyak 1.553 pelaku usaha dan operator mendapatkan kegiatan coaching clinic (pelatihan)."Usaha yang semakin tertata berarti persaingan yang lebih adil bagi pelaku industri, perlindungan yang lebih baik bagi wisatawan, sekaligus peluang peningkatan penerimaan daerah," kata Ni Luh.