Lebih lanjut, Emmy mengajak mahasiswa melihat industri sebagai ruang berkarya yang terbuka luas. Industri masa kini tidak hanya membutuhkan tenaga yang memahami mesin dan proses produksi, tetapi juga membutuhkan pencipta produk, pemilik jenama, pengembang teknologi, kreator, peneliti, hingga wirausaha."Tidak semua harus menjadi pengusaha dan tidak semua harus mendirikan startup. Tetapi setiap orang bisa menemukan perannya. Mereka yang belajar teknologi dapat menciptakan solusi agar proses produksi lebih efisien. Mereka yang memiliki ketertarikan pada desain dan komunikasi dapat membangun produk menjadi jenama yang dipercaya. Sementara itu, mereka yang tertarik pada riset dapat menghasilkan inovasi baru," jelasnya.Emmy mengingatkan bahwa besarnya pasar industri halal tidak secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai pemain utama. Posisi tersebut harus diperjuangkan melalui kemampuan menghasilkan produk, teknologi, gagasan, serta pelaku industri yang relevan dengan kebutuhan zaman. Karena itu, generasi muda memiliki posisi strategis untuk menjadi bagian dari proses transformasi tersebut.Salah satu contoh yang disampaikan adalah Smart Batik Indonesia, sebuah usaha yang dirintis dengan keterbatasan modal. Pendirinya mengawali usaha dengan meminjam produk dari perajin untuk ditawarkan kepada calon pembeli, kemudian secara bertahap mempelajari pasar dan mengembangkan motif batik berciri khas. Usaha tersebut menggabungkan budaya, inovasi, dan keberlanjutan dalam pengembangan produknya.Smart Batik Indonesia kemudian memperoleh Indonesia Halal Industry Awards 2025 untuk kategori Industri Tekstil dan Apparel Halal Terbaik, subkategori Industri Kecil Menengah. Perkembangan usaha tersebut telah memberikan manfaat kepada lebih dari 60 perajin batik, dengan produk yang dapat dipasarkan hingga Rp1,5 juta per potong kain."Contoh tersebut memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Inovasi bisa lahir ketika kita melihat sesuatu yang sudah dimiliki, kemudian mencari cara agar produk tersebut menjadi lebih baik, lebih relevan, lebih ramah lingkungan, lebih mudah diakses, atau mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi," ujar Emmy.Pendekatan serupa dapat diterapkan pada berbagai potensi Indonesia, mulai dari makanan, fesyen, kosmetik, kriya, hingga produk berbasis sumber daya lokal. Oleh karena itu, mahasiswa di arahkan untuk melihat persoalan di lingkungan sekitarnya bukan semata sebagai hambatan, melainkan peluang menciptakan solusi dan inovasi.

Kemenperin juga mengajak generasi muda untuk tidak menunggu hingga lulus kuliah atau memiliki modal besar untuk mulai berkontribusi terhadap industri. Langkah awal dapat dilakukan dengan mengenali potensi diri, menemukan persoalan nyata, meningkatkan kemampuan, memulai dari skala kecil, serta membangun kolaborasi.Menurut Emmy, sebuah riset sederhana, prototipe, proyek kampus, produk sederhana, ataupun kolaborasi antarmahasiswa dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi yang lebih besar. Kolaborasi menjadi semakin penting karena perkembangan industri saat ini membutuhkan berbagai keahlian, perspektif, dan pengalaman."Masa depan industri Indonesia tidak cukup hanya kita tunggu. Masa depan itu harus kita bentuk bersama. Mahasiswa tidak harus menunggu suatu hari nanti untuk menjadi bagian dari perubahan. Mulailah dari kampus, dari bidang yang dikuasai, dan dari masalah yang paling dekat dengan kehidupan kita," pesan Emmy.Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan kreativitas, energi, gagasan, inovasi, karya, dan keberanian generasi muda untuk memulai. "Jangan hanya menjadi generasi yang menyaksikan perubahan. Jadilah generasi yang ikut menciptakan perubahan itu," pungkas Emmy.