"Yang pertama adalah dengan adanya sistem kita memastikan adanya inovasi sistem, integrasi sistem yang kita bangun bersama-sama," imbuh dia.

Atlas KRBG memuat informasi mengenai tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap bahaya gempa bumi. Penyusunannya mempertimbangkan sumber gempa, katalog kejadian gempa, karakteristik geologi, dan kondisi tanah setempat.

Informasi tersebut dapat menjadi salah satu dasar dalam perencanaan tata ruang, pengembangan permukiman, pembangunan infrastruktur, serta penyusunan langkah mitigasi. Dengan demikian, potensi bahaya gempa dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pemanfaatan ruang dan perencanaan pembangunan.

Sementara itu, Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua memetakan karakteristik tanah yang memengaruhi respons suatu wilayah terhadap guncangan gempa. Salah satu parameter yang digunakan adalah kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter atau average shear-wave velocity (Vs30).

Pada edisi kedua, resolusi peta meningkat dari grid 300 meter menjadi 30 meter. Peningkatan tersebut memungkinkan variasi kondisi tanah digambarkan secara lebih rinci dibandingkan edisi sebelumnya.