Menurut dia, aksara Nusantara seperti aksara Bali, Jawa, Sunda, Batak, Lontara, dan Pegon bukan hanya karakter visual, melainkan identitas, sarana menyimpan pengetahuan, dan penghubung peradaban antar-generasi.
Ia menyampaikan perlunya pendokumentasian, penelitian, pendidikan, partisipasi publik, dukungan teknologi, serta sinergi lintas sektor dalam upaya untuk menyelamatkan bahasa dan aksara Nusantara dari kepunahan.
Pelaksanaan upaya-upaya itu, menurut dia, memerlukan kerja sama berkelanjutan yang melibatkan perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan para pemangku pengetahuan tradisional.
"Mari kita bangun masa depan digital di mana setiap budaya dapat menemukan tempatnya, setiap bahasa dapat didengar, dan warisan budaya kita terus berkembang," katanya.