NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan berupaya melestarikan tradisi lisan dan tulisan tradisional Nusantara dengan mendorong peningkatan akses dan penggunaannya di ruang digital.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam rangkaian acara pertemuan tahunan ke-87 Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN87) di Bali, Senin (19/10), menyampaikan bahwa digitalisasi bahasa merupakan langkah konkret untuk melestarikan unsur budaya yang hampir punah.

"Kemajuan teknologi harus merangkul pemajuan kebudayaan," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian di Jakarta pada Rabu.

Dia menyambut peluncuran Nama Domain Internasional (Internationalized Domain Names/IDN) berbasis aksara aksara Bali, Jawa, dan Pegon.

"Seiring dengan peresmian peluncuran Nama Domain Internasional untuk aksara Nusantara, kita mengambil langkah penting menuju terwujudnya visi agar warisan budaya tetap menjadi bagian yang hidup dari masa depan digital kita," katanya.

Fadli mengapresiasi upaya Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) membawa aksara Bali, Jawa, dan Pegon ke ekosistem digital global serta mengupayakan hal yang sama untuk aksara Sunda, Batak, dan Bugis.

Ia berharap peluncuran Nama Domain Internasional untuk aksara Bali, Jawa, dan Pegon dapat menginspirasi inovasi, meningkatkan literasi budaya, dan membuka berbagai kemungkinan baru bagi tradisi penulisan yang lain.

"Pengakuan teknis terhadap aksara kita merupakan tonggak penting. Namun, ambisi kita yang lebih besar adalah memastikan bahwa tradisi penulisan ini dapat dipelajari, diakses, dan digunakan secara aktif oleh masyarakat," kata Fadli.

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta belasan sistem tulisan tradisional (Aksara Nusantara).

Menurut dia, aksara Nusantara seperti aksara Bali, Jawa, Sunda, Batak, Lontara, dan Pegon bukan hanya karakter visual, melainkan identitas, sarana menyimpan pengetahuan, dan penghubung peradaban antar-generasi.

Ia menyampaikan perlunya pendokumentasian, penelitian, pendidikan, partisipasi publik, dukungan teknologi, serta sinergi lintas sektor dalam upaya untuk menyelamatkan bahasa dan aksara Nusantara dari kepunahan.

Pelaksanaan upaya-upaya itu, menurut dia, memerlukan kerja sama berkelanjutan yang melibatkan perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan para pemangku pengetahuan tradisional.

"Mari kita bangun masa depan digital di mana setiap budaya dapat menemukan tempatnya, setiap bahasa dapat didengar, dan warisan budaya kita terus berkembang," katanya.