Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya akses tidak sah terhadap perangkat.
Keberadaan aplikasi yang tidak pernah diunduh atau dipasang pengguna juga perlu diperiksa.
Pasalnya, penjahat siber dapat memanfaatkan aplikasi berbahaya atau malware untuk mengakses informasi dan memantau aktivitas di dalam ponsel.
Jika menemukan aplikasi yang tidak dikenal, pengguna sebaiknya memeriksa asal dan fungsinya, kemudian menghapusnya apabila terbukti mencurigakan.
Riwayat panggilan telepon atau SMS yang tidak pernah dilakukan pengguna juga bisa mengindikasikan adanya aktivitas tidak sah.
Misalnya, terdapat pesan terkirim ke nomor asing meskipun pemilik ponsel merasa tidak pernah mengirimkannya.
Pengguna juga perlu memperhatikan panggilan atau pesan masuk yang tampak seperti balasan terhadap komunikasi yang tidak pernah dilakukan.
Pengguna dapat memeriksa pengaturan pengalihan panggilan atau call forwarding untuk mengetahui apakah panggilan masuk dialihkan ke nomor lain.
Salah satu kode yang dapat digunakan pada jaringan tertentu adalah *#21#, yang berfungsi memeriksa status pengalihan panggilan.
Namun, kode tersebut bukan alat untuk mendeteksi penyadapan atau malware secara langsung. Informasi yang ditampilkan bergantung pada operator dan layanan jaringan yang digunakan.
Selain memeriksa perangkat, pengguna juga perlu memperhatikan keamanan email, media sosial, dan aplikasi pesan instan.
Tautan mencurigakan yang dikirim melalui platform tersebut dapat digunakan penjahat siber untuk mengarahkan korban ke situs berbahaya atau memasang aplikasi tanpa disadari.
Periksa kembali pesan maupun tautan asing yang pernah diterima, terutama jika muncul aktivitas akun yang tidak dikenali.