1. Sensitivitas genetik terhadap rasa pahit

Secara biologis, terdapat gen bernama TAS2R38 yang mengatur tingkat sensitivitas lidah terhadap rasa pahit. Individu dengan variasi genetik tertentu (supertaster) dapat merasakan senyawa pahit seperti glucosinolates pada sayuran (misalnya kubis, brokoli, dan pare) dengan jauh lebih kuat dibanding orang lain. Rasa pahit yang tajam ini sering kali membuat anak muda enggan mengonsumsinya.

2. Terbiasa dengan makanan fast food

Gen Z tumbuh di era di mana makanan cepat saji (fast food) dan makanan olahan (ultra-processed food) sangat mudah diakses melalui layanan antar-jemput daring. Makanan olahan ini dirancang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh yang secara konstan memicu pelepasan dopamin di otak. Akibatnya, ambang batas rasa (palate) anak muda terbiasa dengan cita rasa yang kuat (hyperpalatable), sehingga sayuran dengan rasa alami yang cenderung tawar atau pahit terasa kurang menggugah selera.