"Masalah besar yang saya lihat adalah toko-toko tidak menganggap diri mereka sebagai target potensial. Menurut saya, ada kebutuhan mendesak untuk mulai melindungi layanan-layanan yang selama ini dianggap tidak cukup penting," tutur Rybczynska.

Sebagai informasi, rangkaian insiden siber terbaru kembali menargetkan kulkas dan freezer di sejumlah supermarket Eropa. Wilayah yang terdampak ialah Belgia, Luksemburg, Estonia, Belanda dan Irlaindia pada Senin (2/11).

Tak hanya itu, Swedia juga terdampak dengan salah satu toko menyebut serangan siber sebagai penyebabnya.

Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah freezer di sektiar 500-700 supermarket di Prancis menjadi sasaran serangan siber besar. Serangan tersebut menyebabkan suhu di dalam freezer meningkat hingga mencapai 50 derajat Celsius.

Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atau ditetapkan sebagai pelaku insiden ini. Namun, otoritas Prancis meyakini serangan pada 12 Oktober melibatkan pihak dari luar negeri, meski belum ada pihak yang secara resmi dituding sebagai pelaku.

Laporan dari Euronews Next mengungkap kulkas, sistem pemanas, dan sistem keamanan kini terhubung ke internet supaya dapat dipantau dari jarak jauh. Dengan begitu, pemilik toko dapat mengelolanya dengan lebih mudah.

Secara teori, perangkat apa pun yang terhubung ke internet, baik melalui aplikasi maupun jaringan cloud, berpotensi diretas.

Setelah berhasil masuk ke jaringan, peretas dapat mengumpulkan informasi atau mengendalikan perangkat dengan mengubah pengaturannya. Mereka juga dapat mengunci pengguna agar tidak dapat mengakses akun mereka atau bahkan mematikan perangkat sepenuhnya.