NADIKABAR.COM — Pernah berniat hanya mengecek jam di ponsel, tetapi beberapa detik kemudian malah membuka media sosial, melihat pesan, atau berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain? Menariknya, kebiasaan tersebut bisa terjadi meski tidak ada satu pun notifikasi yang masuk.

Membuka ponsel tanpa alasan yang jelas ternyata bukan hal yang aneh. Kebiasaan ini dapat muncul karena penggunaan ponsel yang sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, rasa bosan, keinginan mencari hiburan, hingga dorongan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia digital.

Lantas, kenapa kita bisa refleks membuka HP meski tidak ada notifikasi? Ini penjelasannya.

Salah satu alasannya adalah kebiasaan yang terbentuk karena dilakukan berulang kali. Ketika seseorang sering membuka ponsel pada waktu-waktu tertentu, tindakan tersebut lama-kelamaan dapat dilakukan hampir secara otomatis.

Penelitian yang diterbitkan dalam Mobile Media & Communication pada 2026 melibatkan lebih dari 4.000 anak muda di Amerika Serikat dan Indonesia. Studi tersebut secara khusus membedakan perilaku mengecek ponsel karena kebiasaan dan perilaku yang lebih bersifat kompulsif. Hasilnya menunjukkan bahwa kebiasaan mengecek ponsel merupakan bagian penting dalam pola penggunaan smartphone sehari-hari.

Penelitian lain juga menemukan bahwa seseorang dapat mengarahkan perhatian ke ponsel secara spontan tanpa didahului notifikasi atau tujuan tertentu. Fenomena tersebut disebut spontaneous smartphone checking.

2. Merasa bosan atau sedang menunggu

Coba perhatikan ketika sedang antre, menunggu kendaraan, duduk sendirian, atau tidak sedang melakukan aktivitas tertentu. Tangan mungkin secara otomatis mengambil ponsel meski sebenarnya tidak ada yang perlu diperiksa.

Ponsel sudah menjadi sumber hiburan, informasi, dan komunikasi yang selalu tersedia. Karena itu, waktu kosong yang sebelumnya mungkin digunakan untuk melamun atau sekadar memperhatikan keadaan sekitar kini sering diisi dengan melihat layar.

Kebiasaan tersebut bisa membuat membuka ponsel terasa seperti respons otomatis ketika seseorang sedang tidak memiliki kegiatan.

3. Ingin tahu apakah ada sesuatu yang terlewat

Tidak adanya notifikasi bukan berarti tidak ada aktivitas baru di dunia digital. Seseorang mungkin membuka media sosial untuk melihat unggahan terbaru, mengecek pesan, membaca berita, atau sekadar memastikan tidak ada sesuatu yang terlewat.

Dorongan seperti ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai fear of missing out atau FoMO. Perasaan tersebut dapat membuat seseorang tetap ingin memantau aktivitas digital meskipun ponselnya sedang tidak memberikan tanda apa pun.

Menariknya, penelitian terhadap 205 orang menunjukkan bahwa mematikan notifikasi selama satu minggu tidak otomatis membuat frekuensi mengecek ponsel dan waktu penggunaan turun. Para peneliti menemukan bahwa perilaku mengecek ponsel ternyata tidak hanya dipicu oleh notifikasi.

4. Ponsel selalu berada dalam jangkauan

Semakin mudah sebuah benda diakses, semakin kecil usaha yang diperlukan untuk menggunakannya. Kondisi tersebut juga berlaku pada ponsel.

Ketika ponsel selalu berada di atas meja, di samping tempat tidur, atau di dalam genggaman, seseorang tidak perlu berpikir panjang untuk membukanya. Cukup satu gerakan, layar sudah menyala dan berbagai aplikasi bisa langsung diakses.

Sebuah survei mengenai kebiasaan digital di Jerman menemukan 81 persen responden mengecek smartphone atau perangkat digital setidaknya sekali atau dua kali dalam satu jam meski tidak menerima notifikasi tertentu. Sebanyak 47,1 persen bahkan melakukannya setidaknya tiga kali dalam satu jam.

Angka tersebut berasal dari survei di Jerman sehingga tidak bisa dianggap sebagai gambaran perilaku masyarakat Indonesia. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa mengecek perangkat tanpa adanya notifikasi merupakan perilaku yang cukup umum.

5. Membuka HP bisa menjadi respons otomatis

Ada kalanya seseorang bahkan tidak sadar sudah membuka ponsel. Tindakan tersebut dapat berlangsung seperti kebiasaan kecil yang muncul ketika ada pemicu tertentu, misalnya sedang bosan, berhenti bekerja sejenak, atau berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Dalam penelitian yang menggunakan pencatatan penggunaan smartphone secara objektif, 205 peserta rata-rata mengecek ponsel sebanyak sekitar 86 kali sehari pada minggu awal penelitian. Jumlah tersebut menunjukkan betapa sering aktivitas membuka ponsel dapat terjadi tanpa selalu disadari.

Hal ini juga menjelaskan mengapa sekadar mematikan notifikasi belum tentu cukup untuk mengurangi kebiasaan tersebut. Dalam penelitian yang sama, notifikasi peserta yang masuk ke kelompok intervensi berhasil turun drastis, tetapi frekuensi mengecek ponsel dan durasi penggunaannya tidak ikut berubah secara signifikan.

Dengan demikian, membuka HP tanpa notifikasi bukan selalu berarti seseorang sedang menunggu pesan atau informasi penting. Kebiasaan tersebut bisa terbentuk dari perpaduan antara rutinitas, rasa bosan, keinginan mencari hiburan, rasa ingin tahu, dan kemudahan akses terhadap perangkat.

Jika kebiasaan ini mulai terasa mengganggu, langkah sederhana yang bisa dicoba adalah menjauhkan ponsel dari jangkauan saat sedang bekerja atau beristirahat, mengurangi aplikasi yang tidak terlalu diperlukan, serta memberikan jeda tanpa layar. Tujuannya bukan harus berhenti menggunakan ponsel, melainkan membuat penggunaannya lebih disadari dan tidak selalu berlangsung secara otomatis.