Wann juga menjelaskan bahwa era digital menguatkan fenomena ini, karena memungkinkan seseorang mengikuti pertandingan dari mana saja sekaligus terhubung dengan penggemar lain secara online.
"Anda bisa menonton pertandingan olahraga sekarang dari mana saja di planet ini dan terhubung secara online, lalu merasa seolah-olah benar-benar menontonnya bersama orang lain," ujarnya.
Menurut Wann, perubahan tersebut membuat cara memahami hubungan antara fandom dan kesejahteraan psikologis juga ikut berkembang. Fenomena tersebut terlihat jelas ketika Timnas bertanding.
Seseorang bisa menonton pertandingan dari rumah, tetapi pada saat bersamaan membaca komentar di X, mengirim meme di WhatsApp, mengikuti live update, atau melakukan video call dengan teman yang berada di tempat berbeda. Secara fisik terpisah, tetapi secara psikologis tetap merasa berada dalam satu kelompok.
Jadi, kenapa suporter bisa begitu cinta Timnasnya? Jawabannya bukan hanya karena sepakbola menyenangkan. Bagi sebagian orang, Timnas menjadi bagian dari identitas sosial mereka. Ada rasa memiliki, kebanggaan nasional, hubungan dengan sesama suporter, ritual pertandingan, simbol berupa jersey dan warna, hingga pengalaman emosional yang dibagikan bersama.
Karena itu, ketika Timnas menang, suporter tidak hanya melihat skor, melainkan melihat kelompok yang mereka anggap sebagai bagian dari dirinya berhasil. Dan ketika Timnas kalah, rasa kecewa bisa terasa personal karena yang mengalami kekalahan bukan lagi sekadar 11 pemain di lapangan, melainkan sesuatu yang sudah terhubung dengan identitas mereka.