Fenomena ini juga dapat terjadi ketika awan mulai tumbuh pada siang hingga sore hari. Permukaan bumi yang mendapat pemanasan matahari menyebabkan udara di dekat permukaan menjadi lebih hangat dan naik. Jika kondisi atmosfer mendukung, proses tersebut dapat membantu pembentukan awan yang kemudian berkembang menjadi hujan.

Itulah sebabnya pada periode tertentu masyarakat bisa merasakan udara yang semakin pengap pada siang atau sore hari, meskipun hujan belum turun.

Kondisi cuaca di Indonesia saat ini juga tidak bisa disamaratakan. Berdasarkan analisis BMKG pada 23 September 2026, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim masih mengalami musim kemarau.

BMKG juga memprediksi curah hujan pada periode September dasarian II hingga Oktober dasarian I 2026 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0-150 milimeter per dasarian.

Dengan kondisi tersebut, hujan belum tentu turun secara merata atau rutin di seluruh wilayah. Sebagian daerah masih dapat mengalami hari-hari yang relatif kering, sementara daerah lainnya sudah mendapat hujan lokal.

BMKG juga mencatat sejumlah dinamika atmosfer tetap aktif. Gelombang atmosfer, daerah pertemuan atau perlambatan angin, serta kondisi atmosfer lokal dapat membuat pertumbuhan awan hujan terjadi di wilayah tertentu meski secara umum kondisi kering masih mendominasi.