NADIKABAR.COM — Beberapa hari terakhir, sebagian masyarakat mungkin mulai merasakan perubahan suasana udara. Hujan memang belum turun secara rutin dan merata setiap hari, tapi udara justru terasa makin lembap, pengap, bahkan membuat tubuh cepat berkeringat.

Kondisi ini cukup sering muncul ketika cuaca sedang mengalami perubahan. Apalagi, hujan dan kelembapan udara sebenarnya merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak selalu datang bersamaan.

Lalu, kenapa udara bisa terasa lembap meski hujan belum rutin?

Secara sederhana, kelembapan udara menunjukkan banyaknya uap air yang terdapat di atmosfer. Semakin banyak kandungan uap air di udara, semakin tinggi pula kelembapannya.

Artinya, udara yang lembap tidak harus selalu ditandai dengan hujan. Uap air bisa sudah cukup banyak berada di atmosfer, sementara kondisi atmosfer lainnya belum mendukung terbentuknya awan hujan dalam jumlah besar.

Ketika kelembapan tinggi bertemu dengan suhu udara yang cukup panas, tubuh juga bisa merasakan suasana yang lebih gerah.

Pasalnya, keringat yang keluar dari tubuh membutuhkan proses penguapan untuk membantu mendinginkan tubuh. Ketika udara sudah mengandung banyak uap air, proses penguapan keringat menjadi lebih lambat. Akibatnya, tubuh terasa lebih lengket dan panas meskipun suhu udara yang tercatat sebenarnya tidak terlalu ekstrem.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa suasana gerah secara meteorologis dapat terjadi ketika suhu udara panas disertai kelembapan yang tinggi.

Kenapa kondisi ini bisa terjadi sebelum hujan rutin?

Salah satu penyebabnya adalah perubahan dinamika atmosfer ketika suatu wilayah mulai mendekati periode peralihan musim.

Pada kondisi tertentu, kandungan uap air di atmosfer dapat meningkat terlebih dahulu. Namun, untuk menghasilkan hujan, masih diperlukan proses lain seperti pengangkatan massa udara, pertumbuhan awan, serta kondisi angin yang mendukung.

Jadi, ada kemungkinan udara terasa semakin lembap sebelum hujan benar-benar menjadi lebih sering.

Fenomena ini juga dapat terjadi ketika awan mulai tumbuh pada siang hingga sore hari. Permukaan bumi yang mendapat pemanasan matahari menyebabkan udara di dekat permukaan menjadi lebih hangat dan naik. Jika kondisi atmosfer mendukung, proses tersebut dapat membantu pembentukan awan yang kemudian berkembang menjadi hujan.

Itulah sebabnya pada periode tertentu masyarakat bisa merasakan udara yang semakin pengap pada siang atau sore hari, meskipun hujan belum turun.

Kondisi cuaca di Indonesia saat ini juga tidak bisa disamaratakan. Berdasarkan analisis BMKG pada 23 September 2026, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim masih mengalami musim kemarau.

BMKG juga memprediksi curah hujan pada periode September dasarian II hingga Oktober dasarian I 2026 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0-150 milimeter per dasarian.

Dengan kondisi tersebut, hujan belum tentu turun secara merata atau rutin di seluruh wilayah. Sebagian daerah masih dapat mengalami hari-hari yang relatif kering, sementara daerah lainnya sudah mendapat hujan lokal.

BMKG juga mencatat sejumlah dinamika atmosfer tetap aktif. Gelombang atmosfer, daerah pertemuan atau perlambatan angin, serta kondisi atmosfer lokal dapat membuat pertumbuhan awan hujan terjadi di wilayah tertentu meski secara umum kondisi kering masih mendominasi.