"Ia melaporkan meletakkan laptop di atas perutnya hingga delapan jam setiap hari, sering kali saat sedang mengisi daya," kata dokter yang menangani bocah tersebut seperti dikutip dari Ars Technica.

Keterangan itu akhirnya membantu dokter menemukan penyebab bercak kulit yang sebelumnya misterius. Dokter mendiagnosis anak tersebut mengalami erythema ab igne (EAI), kondisi kulit yang dalam bahasa Latin berarti kemerahan akibat api. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah 'toasted skin syndrome' atau sindrom kulit terbakar.

EAI terjadi akibat paparan panas rendah secara berulang dan dalam waktu lama. Suhunya tidak cukup tinggi untuk menyebabkan luka bakar secara langsung, tetapi paparan yang terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil di lapisan permukaan kulit.

Akibatnya, kulit dapat berubah menjadi kemerahan hingga gosong kecokelatan dengan pola khas seperti jaring atau renda. Kondisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. EAI secara tradisional dikaitkan dengan penggunaan bantalan pemanas, botol air panas, pemanas ruangan, hingga paparan panas dalam pekerjaan tertentu. Namun, penggunaan perangkat elektronik membuat sumber panas baru mulai mendapat perhatian.

"Meningkatnya penggunaan perangkat elektronik, terutama selama homeschooling, telah muncul sebagai penyebab EAI yang kurang dikenali pada anak-anak," kata para peneliti.

Salah satu hal yang membuat kondisi ini mudah terlewat adalah panas yang memicunya tidak harus terasa seperti panas yang membakar. EAI justru berkaitan dengan paparan panas rendah dalam waktu lama. Karena itu, seseorang mungkin tidak merasa perlu memindahkan laptop meskipun perangkat tersebut terasa hangat.