Penelitian medis sebelumnya juga mencatat EAI dapat muncul pada pengguna laptop yang menempatkan komputer langsung di paha dalam waktu lama. Kondisi tersebut biasanya diawali kemerahan, kemudian berkembang menjadi pola kulit yang lebih gelap dan tidak mudah hilang.
Setelah penyebabnya diketahui, anak tersebut diminta menghentikan kebiasaan menempatkan laptop langsung di tubuhnya. Beberapa bulan kemudian, keluarganya melaporkan melalui konsultasi telepon bahwa kondisi kulitnya berangsur membaik hingga bercak tersebut akhirnya menghilang.
Secara umum, EAI dapat membaik setelah sumber panas dihentikan. Namun, pada paparan kronis, perubahan warna kulit dapat bertahan lebih lama. Para penulis laporan juga mengingatkan adanya risiko komplikasi yang jarang terjadi pada kasus yang berlangsung lama.
Karena itu, kebiasaan menggunakan laptop langsung di atas kulit selama berjam-jam sebaiknya dihindari. Meletakkan perangkat di meja atau menggunakan dudukan laptop dapat membantu mengurangi kontak langsung antara sumber panas dan tubuh.
Para dokter juga menekankan pentingnya mengenali EAI pada anak. Dalam kasus yang mereka laporkan, pengenalan kondisi secara lebih awal dapat membantu menghindari salah diagnosis serta pemeriksaan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Kasus ini bukan berarti laptop secara umum berbahaya bagi kulit, melainkan menunjukkan bahwa paparan panas yang berulang dan berlangsung lama pada area tubuh yang sama dapat menimbulkan masalah. Jadi, bukan hanya soal seberapa panas laptop terasa, tetapi juga berapa lama dan seberapa sering panas tersebut mengenai kulit.