"Kadang-kadang rombongan 1 bus 2 bus, banyak menggunakan QRIS ke sini, karena lebih mudah, enggak usah lagi cari money changer mau tukar rupiah ke ringgit kan. Sekarang banyak ini lebih mudah secara pembelanjaannya. Lebih banyak QRIS daripada cash sekarang," ungkap Wiwi.
Ia menjelaskan hadirnya teknologi pembayaran ini sangat memudahkan wisatawan Indonesia yang merupakan pelanggan nomor satu di tokonya. Sebab, kata dia, wisatawan bisa melihat nominal belanja dalam mata uang rupiah tanpa perlu bingung menghitung nilai tukar.
Sebelum hadirnya integrasi pembayaran ini, beberapa rombongan pelancong kerap batal berbelanja jajanan tradisional karena tidak membawa mata uang lokal. Kini, masalah tersebut teratasi hingga memberikan dampak langsung pada pendapatan usahanya.
"Kalau dulu kadang-kadang ada jamaah umrah dari Indonesia ke sini, nggak bisa pakai rupiah nggak belanja. Tapi semenjak ada ini kan semuanya alhamdulillah, jadi lebih bagus," jelasnya.
Tren transaksi QRIS antarnegara ini juga semakin masif di Singapura, mulai dari Maxwell Food Centre hingga kawasan populer Haji Lane. Potensi ini dimanfaatkan Dohartua Parlindungan Sihombing, pemilik toko barang vintage di kawasan Haji Lane.
Ia menyebut bahwa 70 persen pembeli di tokonya merupakan turis asing, dan sekitar 30 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Pembayaran turis Indonesia dilakukan lewat QRIS yang terintegrasi dengan QR NETS.
Dia menilai selain faktor kepraktisan, wisatawan Indonesia lebih menyukai QRIS karena kurs bank jauh lebih menguntungkan dibandingkan di money changer.
"Mereka tahu kalau kurs di bank lebih bagus dari kursi di money changer. Jadi mereka bilang, karena bank kasih lebih bagus kursi, dan mereka senang, jadi mereka tak payah pegang dompet rupiah banyak-banyak, jadi mereka lebih enteng pakai QRIS dari pembayaran.
Dohartua juga menilai turis Indonesia memiliki daya beli tinggi dengan rata-rata belanja mencapai SGD 200 hingga SGD 300 sekali transaksi. Sebelum membeli, mereka biasanya membandingkan harga barang vintage tersebut dengan harga pasar online di Indonesia. Dari kebiasaan belanja ini, ia bahkan bisa mengantongi hingga SGD 10.000 dalam sebulan.
Mengenai keandalan teknologi pembayaran digital antarnegara, ia memastikan seluruh prosesnya berjalan sangat lancar. "Nggak, nggak ada kendala. Sistem Indonesia memang nggak ada masalah, di sini lancar. Pokoknya kalau internet semua lancar, nggak ada masalah," jelasnya.
Sebagai informasi, QRIS bisa dipakai sebagai alat pembayaran di Malaysia dan Singapura setelah Bank Indonesia bekerja sama dengan otoritas setempat sejak 2023 melalui integrasi sistem pembayaran QRIS dengan DuitNow dan NETS.
Kepala Perwakilan BI Singapura Widi Agustin S mengungkap hingga saat ini volume transaksi pembayaran menggunakan QRIS di wilayah kerjanya yang mencakup Malaysia, Singapura, dan Thailand mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan.