"Kalau kita lihat data, dari Januari sampai dengan Juli 2026, mungkin untuk seluruh negara yang dipegang oleh KPw Singapura, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand, itu totalnya sudah hampir mencapai 10 juta transaksi. Dan kalau kita lihat daerah-daerah negara, untuk Singapura sendiri, transaksinya sampai dengan Juli ini, sudah mencapai 407 ribu transaksi," terang Widi
Untuk mengakselerasi dan memperluas jangkauan adopsi sistem pembayaran digital di Singapura, KPw BI Singapura meluncurkan berbagai strategi edukasi serta integrasi salah satunya dengan menghadirkan GARUDA (Gerakan Akseptasi QRIS Antarnegara untuk Digitalisasi dan Akselerasi,
"Melalui gerakan GARUDA ini, kami melakukan berbagai strategi untuk melakukan perluasan QRIS yang ada di Singapura. Pertama-tama, kita lakukan upaya sosialisasi atau kampanye penggunaan QRIS dengan bekerjasama dengan salah satu maskapai nasional kita yang memiliki jalur Jakarta-Singapura. Itu kita lakukan kerja sama mengedukasi penumpang untuk penggunaan QRIS," jelasnya.
Tidak berhenti di situ, edukasi juga dilakukan secara langsung begitu pelancong menginjakkan kaki di negara tujuan melalui kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi.
"Lalu yang kedua, kita juga bekerjasama dengan provider yang ada di Singapura dan juga ada di Jakarta. Itu kita punya inovasi mengirimkan SMS notifikasi kepada wisatawan Indonesia yang ada di Singapura. Begitu mereka sampai di Singapura, mereka akan mendapatkan notifikasi SMS bahwa mereka bisa menggunakan QRIS Antarnegara di Singapura. Lalu kita juga bekerjasama dengan Bank Sentral di negara kawasan kita, kemudian juga dengan switcher yang ada untuk memperluas penggunaan QRIS di Singapura," ungkap Widi.
Meskipun Singapura terus menunjukkan tren pertumbuhan, Widi menyampaikan bahwa secara nominal dan volume, transaksi di Singapura saat ini masih berada di bawah Malaysia yang memiliki mobilitas wisatawan lebih besar.
"Kalau kita lihat, memang Singapura ini walaupun negara kedua di wilayah kerja kami yang mengakseptasi QRIS setelah Thailand, tapi memang secara nominal masih jauh di bawah Malaysia. Ini mungkin sejalan dengan perkembangan turis Malaysia yang datang ke Indonesia lebih banyak, sehingga secara transaksi untuk Malaysia memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura baik dalam jumlah transaksi maupun dari sisi nominal," paparnya.
Lebih lanjut, melihat respons positif penggunaan QRIS di kawasan ASEAN, Bank Indonesia terus mematangkan rencana ekspansi penggunaan QRIS antarnegara ke kawasan Asia lainnya yang potensial, salah satunya India.
"Kalau ke depan untuk wilayah kerja Singapura, sejalan dengan rencana perluasan lokal karansi transaksi yang akan kita perluas ke India, maka QRIS Antarnegara juga akan kita lakukan perluasan ke India. Mungkin jadi akan lebih banyak lagi pemanfaatan QRIS, terutama kalau kita lihat perkembangan turis India juga semakin banyak yang datang ke Indonesia, sehingga itu potensi untuk dikembangkan penggunaan QRIS Antarnegara dengan India," tutur Widi.
Ke depan, fokus utama BI bukan sekadar perluasan infrastruktur teknis, melainkan juga membangun kesadaran (awareness) di tingkat pengguna maupun pemilik usaha atau merchant.
"Peningkatan awareness itu sangat penting untuk ditingkatkan. Awareness ini bisa jadi dua, jadi awareness pengguna, baik yang wisatawan yang datang ke Singapura maupun wisatawan Singapura yang datang ke Indonesia. Yang kedua, awareness dari merchant. Jadi merchant di Singapura juga pada saat mereka melihat ada turis Indonesia, mereka sudah harusnya bisa juga menyampaikan bahwa penggunaan QRIS Antarnegara itu bisa dilakukan di Singapura. Begitu juga sebaliknya untuk di Indonesia," pungkasnya.