NADIKABAR.COM — Selang beberapa detik kemudian, layar ponselnya menampilkan konfirmasi transaksi berhasil. Tidak ada lembaran uang ringgit yang berpindah tangan. Tidak ada aktivitas yang menyita waktu di money changer. Saldo di rekeningnya terpotong otomatis dan pesanan makan siang pun langsung terbayar.

Pemandangan semacam itu kini semakin lazim terjadi di berbagai merchant kuliner hingga pusat perbelanjaan di negeri jiran. Transaksi singkat ini perlahan mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia di luar negeri berkat inovasi teknologi pembayaran QRIS Cross-Border dari Bank Indonesia.

Gustidha mengaku sangat terbantu dengan hadirnya fitur pembayaran QRIS antarnegara ini, terlebih karena ia belum sempat menukarkan uang tunai ke valuta asing sebelumnya. Proses transaksinya pun dinilai praktis tinggal scan tanpa perlu konversi manual.

"Ternyata pas di-scan itu (langsung) tertera nominalnya MYR, jadi kita tinggal nulis aja, nggak harus di-convert-convert dulu berapa, dan lainnya langsung ter-convert sendiri di rekeningnya, kayak pakai QRIS biasa aja," ujar Gustida ditemui belum lama ini.

Selain praktis, penggunaan QRIS antarnegara juga memberikan transparansi nilai tukar secara real-time tanpa dibayangi biaya administrasi tambahan. Menurutnya, hal ini bisa memangkas ketergantungan pelancong pada uang tunai valuta asing.

"Iya itu sih ini banget ya, terutama buat kita yang saling bermobilitas ya, kadang gak sempat nukerin uang segala macam, tentu dengan adanya QRIS (antarnegara) ini kita jadi lebih cepat transaksi dan lain-lain, jadi ngebantu banget sih," jelasnya.

Dampak positif ini juga dirasakan oleh Pemilik Nasi Lemak Wanjo, Mohammad Nazri. Ia mengungkap bahwa sekitar 80 persen wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke restorannya kini memilih bertransaksi menggunakan pembayaran digital QRIS melalui kode QR DuitNow.

Menurutnya, adopsi QRIS antarnegara sangat mempermudah operasional usahanya. Selain membuat proses transaksi menjadi lebih transparan, penggunaan pembayaran nontunai ini disebutnya memperpendek antrean pelanggan dan mempercepat alur pelayanan.

"Kami lebih mengalu-alukan (menyambut baik) penggunaan kaedah pembayaran secara begini karena ia lebih memudahkan kami dan juga pengunjung. Tidak perlu membawa tunai, tidak perlu ke money changer. Ini memberi impact yang positif pada perniagaan kami," ujar Nazri.

Selain itu, kehadiran fitur ini juga dinilai sejalan dengan perkembangan zaman dan tren transaksi global. Nazri pun secara terbuka menyambut hangat kedatangan para pelancong Indonesia ke kedai legendarisnya di Kampung Baru tanpa perlu khawatir lagi akan kendala pembayaran.

"Terima kasih kepada semua pengunjung dari Indonesia yang sudah hadir ke Restoran Wanjo. Kami mengalu-alukan kedatangan Anda dan kami menerima kaedah pembayaran melalui QRIS," jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan Wiwi, penjual oleh-oleh di kawasan destinasi wisata favorit di Central Market, Kuala Lumpur. Ia menuturkan bahwa mayoritas pembeli di tokonya yang didominasi warga negara Indonesia kini lebih memilih bertransaksi secara nontunai karena lebih mudah.

"Kadang-kadang rombongan 1 bus 2 bus, banyak menggunakan QRIS ke sini, karena lebih mudah, enggak usah lagi cari money changer mau tukar rupiah ke ringgit kan. Sekarang banyak ini lebih mudah secara pembelanjaannya. Lebih banyak QRIS daripada cash sekarang," ungkap Wiwi.

Ia menjelaskan hadirnya teknologi pembayaran ini sangat memudahkan wisatawan Indonesia yang merupakan pelanggan nomor satu di tokonya. Sebab, kata dia, wisatawan bisa melihat nominal belanja dalam mata uang rupiah tanpa perlu bingung menghitung nilai tukar.

Sebelum hadirnya integrasi pembayaran ini, beberapa rombongan pelancong kerap batal berbelanja jajanan tradisional karena tidak membawa mata uang lokal. Kini, masalah tersebut teratasi hingga memberikan dampak langsung pada pendapatan usahanya.

"Kalau dulu kadang-kadang ada jamaah umrah dari Indonesia ke sini, nggak bisa pakai rupiah nggak belanja. Tapi semenjak ada ini kan semuanya alhamdulillah, jadi lebih bagus," jelasnya.

Tren transaksi QRIS antarnegara ini juga semakin masif di Singapura, mulai dari Maxwell Food Centre hingga kawasan populer Haji Lane. Potensi ini dimanfaatkan Dohartua Parlindungan Sihombing, pemilik toko barang vintage di kawasan Haji Lane.

Ia menyebut bahwa 70 persen pembeli di tokonya merupakan turis asing, dan sekitar 30 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Pembayaran turis Indonesia dilakukan lewat QRIS yang terintegrasi dengan QR NETS.

Dia menilai selain faktor kepraktisan, wisatawan Indonesia lebih menyukai QRIS karena kurs bank jauh lebih menguntungkan dibandingkan di money changer.

"Mereka tahu kalau kurs di bank lebih bagus dari kursi di money changer. Jadi mereka bilang, karena bank kasih lebih bagus kursi, dan mereka senang, jadi mereka tak payah pegang dompet rupiah banyak-banyak, jadi mereka lebih enteng pakai QRIS dari pembayaran.

Dohartua juga menilai turis Indonesia memiliki daya beli tinggi dengan rata-rata belanja mencapai SGD 200 hingga SGD 300 sekali transaksi. Sebelum membeli, mereka biasanya membandingkan harga barang vintage tersebut dengan harga pasar online di Indonesia. Dari kebiasaan belanja ini, ia bahkan bisa mengantongi hingga SGD 10.000 dalam sebulan.

Mengenai keandalan teknologi pembayaran digital antarnegara, ia memastikan seluruh prosesnya berjalan sangat lancar. "Nggak, nggak ada kendala. Sistem Indonesia memang nggak ada masalah, di sini lancar. Pokoknya kalau internet semua lancar, nggak ada masalah," jelasnya.

Sebagai informasi, QRIS bisa dipakai sebagai alat pembayaran di Malaysia dan Singapura setelah Bank Indonesia bekerja sama dengan otoritas setempat sejak 2023 melalui integrasi sistem pembayaran QRIS dengan DuitNow dan NETS.

Kepala Perwakilan BI Singapura Widi Agustin S mengungkap hingga saat ini volume transaksi pembayaran menggunakan QRIS di wilayah kerjanya yang mencakup Malaysia, Singapura, dan Thailand mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan.

"Kalau kita lihat data, dari Januari sampai dengan Juli 2026, mungkin untuk seluruh negara yang dipegang oleh KPw Singapura, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand, itu totalnya sudah hampir mencapai 10 juta transaksi. Dan kalau kita lihat daerah-daerah negara, untuk Singapura sendiri, transaksinya sampai dengan Juli ini, sudah mencapai 407 ribu transaksi," terang Widi

Untuk mengakselerasi dan memperluas jangkauan adopsi sistem pembayaran digital di Singapura, KPw BI Singapura meluncurkan berbagai strategi edukasi serta integrasi salah satunya dengan menghadirkan GARUDA (Gerakan Akseptasi QRIS Antarnegara untuk Digitalisasi dan Akselerasi,

"Melalui gerakan GARUDA ini, kami melakukan berbagai strategi untuk melakukan perluasan QRIS yang ada di Singapura. Pertama-tama, kita lakukan upaya sosialisasi atau kampanye penggunaan QRIS dengan bekerjasama dengan salah satu maskapai nasional kita yang memiliki jalur Jakarta-Singapura. Itu kita lakukan kerja sama mengedukasi penumpang untuk penggunaan QRIS," jelasnya.

Tidak berhenti di situ, edukasi juga dilakukan secara langsung begitu pelancong menginjakkan kaki di negara tujuan melalui kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi.

"Lalu yang kedua, kita juga bekerjasama dengan provider yang ada di Singapura dan juga ada di Jakarta. Itu kita punya inovasi mengirimkan SMS notifikasi kepada wisatawan Indonesia yang ada di Singapura. Begitu mereka sampai di Singapura, mereka akan mendapatkan notifikasi SMS bahwa mereka bisa menggunakan QRIS Antarnegara di Singapura. Lalu kita juga bekerjasama dengan Bank Sentral di negara kawasan kita, kemudian juga dengan switcher yang ada untuk memperluas penggunaan QRIS di Singapura," ungkap Widi.

Meskipun Singapura terus menunjukkan tren pertumbuhan, Widi menyampaikan bahwa secara nominal dan volume, transaksi di Singapura saat ini masih berada di bawah Malaysia yang memiliki mobilitas wisatawan lebih besar.

"Kalau kita lihat, memang Singapura ini walaupun negara kedua di wilayah kerja kami yang mengakseptasi QRIS setelah Thailand, tapi memang secara nominal masih jauh di bawah Malaysia. Ini mungkin sejalan dengan perkembangan turis Malaysia yang datang ke Indonesia lebih banyak, sehingga secara transaksi untuk Malaysia memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura baik dalam jumlah transaksi maupun dari sisi nominal," paparnya.

Lebih lanjut, melihat respons positif penggunaan QRIS di kawasan ASEAN, Bank Indonesia terus mematangkan rencana ekspansi penggunaan QRIS antarnegara ke kawasan Asia lainnya yang potensial, salah satunya India.

"Kalau ke depan untuk wilayah kerja Singapura, sejalan dengan rencana perluasan lokal karansi transaksi yang akan kita perluas ke India, maka QRIS Antarnegara juga akan kita lakukan perluasan ke India. Mungkin jadi akan lebih banyak lagi pemanfaatan QRIS, terutama kalau kita lihat perkembangan turis India juga semakin banyak yang datang ke Indonesia, sehingga itu potensi untuk dikembangkan penggunaan QRIS Antarnegara dengan India," tutur Widi.

Ke depan, fokus utama BI bukan sekadar perluasan infrastruktur teknis, melainkan juga membangun kesadaran (awareness) di tingkat pengguna maupun pemilik usaha atau merchant.

"Peningkatan awareness itu sangat penting untuk ditingkatkan. Awareness ini bisa jadi dua, jadi awareness pengguna, baik yang wisatawan yang datang ke Singapura maupun wisatawan Singapura yang datang ke Indonesia. Yang kedua, awareness dari merchant. Jadi merchant di Singapura juga pada saat mereka melihat ada turis Indonesia, mereka sudah harusnya bisa juga menyampaikan bahwa penggunaan QRIS Antarnegara itu bisa dilakukan di Singapura. Begitu juga sebaliknya untuk di Indonesia," pungkasnya.