NADIKABAR.COM — IHSG mengakhiri perdagangan Rabu (23/9) dengan kenaikan 1,56% ke level 6.374,91.
Sejumlah saham menjadi penggerak indeks, di antaranya BBCA yang naik 1,61%, DSSA melonjak 9,18%, dan BYAN menguat 3,80%. Di sisi lain, TLKM turun 1,21%, KPIG terkoreksi 14,06%, dan ASII melemah 0,63%.
Di pasar reguler, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp468,26 miliar. Jika dihitung di seluruh pasar, posisi net sell asing mencapai Rp461,35 miliar. Seluruh 11 sektor saham berakhir menguat, dengan sektor Basic Industry mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 3,47%.
Pergerakan pasar domestik berlangsung berbeda dengan bursa Amerika Serikat. Dow Jones melemah 0,68% ke level 51.511, S&P 500 turun 0,75% ke 7.706, dan Nasdaq terkoreksi 1,13% ke 26.936.
Di dalam negeri, sektor Basic Materials menjadi salah satu penopang IHSG setelah muncul sentimen terkait revisi formula HPM limonit yang berpotensi berdampak pada economics smelter HPAL. Sementara itu, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing menguat 0,82% dan 0,81%.
KIJA kembali melanjutkan kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan ekosistem energi hijau di Kawasan Industri Jababeka. Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari skema yang telah disepakati dalam B20 Summit dan World Economic Forum G20 pada 2022.
Sejumlah inisiatif masuk dalam kolaborasi tersebut, mulai dari pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, panel surya, hingga Battery Energy Storage System (BESS). Kerja sama juga mencakup kredit karbon serta pengolahan limbah menjadi energi.
KIJA bersama Pertamina turut menjajaki penggunaan hidrogen hijau untuk mendukung transportasi rendah karbon dalam konsep Transit Oriented Development (TOD). Memasuki 2027, pengembangan akan diarahkan pada tiga area, yakni hidrogen, biometana, dan potensi panas bumi.
Program tersebut menjadi bagian dari komitmen Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) Jababeka. Kawasan industri tersebut saat ini dihuni sekitar 2.000 perusahaan multinasional yang berasal dari 36 negara.