BUVA menambah portofolio bisnisnya di Bali melalui investasi pada Kharisma Jawara Abadi (KJA). BUVA memiliki kepemilikan efektif sebesar 16,27% di KJA yang berstatus sebagai entitas asosiasi.

KJA diketahui menguasai 58,36% KAJA Group, pengembang destinasi hiburan Zumana di Kuta. Dengan struktur tersebut, BUVA memiliki kepemilikan efektif sekitar 9,50% pada Zumana.

Destinasi tersebut berdiri di atas lahan sekitar 3.500 meter persegi di kawasan Sunset Bay Kuta. Zumana dikembangkan bersama Savaya Group dengan desain dari Rockwell Group.

Langkah ini membuat BUVA tidak hanya mengandalkan bisnis akomodasi, tetapi juga masuk ke segmen beach club, F&B, dan hiburan. Perkembangan tersebut juga berlangsung ketika kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2025 meningkat 9,72% secara tahunan menjadi 6,95 juta kunjungan, dibandingkan 6,33 juta kunjungan pada 2024.

Meski demikian, dampak investasi Zumana belum akan masuk ke pendapatan konsolidasi BUVA. Kontribusinya diperkirakan mulai tercermin pada paruh kedua 2026 melalui bagian laba dari entitas asosiasi.

BIPP menyiapkan aksi korporasi berupa private placement. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 502,87 juta saham baru seri B atau sekitar 10% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Jika menggunakan asumsi harga pelaksanaan Rp100 per saham, aksi tersebut berpotensi memberikan dana sekitar Rp50,29 miliar. Dana hasil penerbitan saham akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan serta memenuhi kebutuhan pendanaan dan modal kerja BIPP bersama entitas anak.

Berdasarkan proforma 1H26, total ekuitas BIPP diproyeksikan meningkat 5,27% menjadi Rp1 triliun. Sementara itu, total aset diproyeksikan naik 2,74% menjadi Rp1,88 triliun. Dengan perubahan tersebut, rasio liabilitas terhadap ekuitas diproyeksikan turun dari 0,92 kali menjadi 0,87 kali.