Keterjangkauan harga pupuk pada akhirnya diharapkan dapat memperluas akses petani terhadap pupuk. Hal ini tercermin dari peningkatan penebusan pupuk bersubsidi setelah kebijakan penurunan harga diterapkan pemerintah pada Oktober 2025. Hingga 1 September 2026, penebusan pupuk bersubsidi mencapai 6,33 juta ton, meningkat 27,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Kepala BP BUMN Dony Oskaria menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan efisiensi tinggi tanpa memberikan beban tambahan pada anggaran negara. Komitmen perubahan ini digodok bersama manajemen dan telah dipresentasikan langsung di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk mengubah formula subsidi yang lebih tepat sasaran.

"Di Pupuk kita melakukan transformasi yang lebih fundamental lagi ya. Waktu Pupuk kita ambil bisnis modelnya adalah cost plus. Nah COGS dikasih margin. Lalu saya berdiskusi dengan Pak Dirut-nya, kemudian saya hadir ke DPR, saya mempresentasikan di DPR yang bersamaan dengan Pak Dirut. Kemudian kita meminta perubahan bisnis model kepada pemerintah menjadi market to market, ya harga pasar tetapi kemudian subsidinya yang dihitung sehingga ini tidak membebani pemerintah di satu sisi, di satu sisi menekan harga COGS kita," ujar Dony.

Langkah berani mengubah orientasi bisnis ini langsung memberikan dampak domino yang positif terhadap rantai pasok pertanian nasional. Penurunan COGS membuat harga pupuk di tingkat makro menjadi lebih efisien. Di saat yang sama, kapasitas produksi perusahaan terus dipacu guna memenuhi kebutuhan domestik secara masif sekaligus membuka peluang bisnis di pasar global.

"Dengan pola ini kita berhasil menekan biaya harga pupuk kita kepada petani. Ya karena produksi kita menjadi lebih banyak, kita tingkatkan produksi, kita bisa mengekspor pupuk. Di satu sisi laba kita meningkat jadi bisnis modelnya ini sebetulnya perubahan yang sangat fundamental dari Pupuk Indonesia," lanjut Dony.

Optimisme terhadap masa depan industri pupuk nasional kian menguat seiring dengan langkah pemerintah yang saat ini tengah memodernisasi infrastruktur produksi. Sebanyak delapan pabrik pupuk di bawah naungan holding kini sedang dalam proses perbaikan komprehensif untuk memastikan efisiensi berjalan secara berkelanjutan.Transformasi ini pun berbuah manis. Selain mencatatkan pertumbuhan keuntungan yang sangat signifikan, produk Pupuk Indonesia kini mulai diakui keandalannya di kancah internasional, yang ditandai dengan keberhasilan menembus pasar Australia.

"Hari ini kita sedang melakukan perbaikan delapan pabrik pupuk kita. Nah ini kan artinya transformasi ini satu persatu dan hasilnya terlihat labanya meningkat lebih dari 200%. Saya cukup optimis bahwa pupuk ini ke depannya akan semakin besar. Ya, kita mulai mengekspor kemarin ekspor perdana kita ke Australi. Disambut oleh di Australi sangat-sangat senang dengan ekspor pupuk kita ini. Ya, ini pencapaian juga untuk teman-teman di Pupuk Indonesia," ungkap Dony.

Dony menilai capaian kinerja yang diraih Pupuk Indonesia menunjukkan bahwa transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan berada pada jalur yang tepat dan perlu terus diperkuat agar mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan.

"Transformasinya sudah mulai nunjukin hasil. Ke depan yang perlu dijaga adalah konsistensi, sambil tetap siap menghadapi perubahan pasar dan kebijakan," ujarnya.