"Waktu FFWS ID 2024 Spring, kami gagal dan bahkan harus turun ke FFNS. Kami memulai lagi dari grassroots. Kami ikut community tournament di Tangerang, naik kereta, lalu bermain di KFC bersama publik. Rasanya seperti kembali ke masa turnamen offline zaman dulu," ujarnya.

Dari situ hasilnya mulai terlihat. Mereka dapat melaju ke Free Fire Nusantara Series (FFNS), lalu menjadi juara di Bandung. Setelah itu tampil di FFWS SEA 2024 Fall yang berlangsung di Surabaya, meskipun ketika itu belum bisa meraih titel juara.

"Jadi, sejak lama ada satu hal dalam pikiranku: Surabaya harus menjadi tempat untuk redemption. Kami pernah gagal di sini. Ketika kembali untuk ketiga kalinya, kami tidak mau gagal lagi," tegas Chrisjo.

Pertandingan Grand Final pun berjalan sangat alot. Seluruh tim yang bertanding mengerahkan segala kemampuannya, untuk bisa mengantongi titel tim Free Fire terkuat di Asia Tenggara.

Kejutan selalu datang di setiap game-nya. Bahkan hingga game ke-11, tidak ada yang bisa memprediksi tim yang akan mendapatkan booyah. Hingga pada akhirnya satu tim asal Thailand, Team Falcons, membuat suasana di Tunjungan Plaza, Surabaya, pecah.

Sebagai konteks, saat game ke-11 berlangsung, sudah ada 10 tim yang mendapatkan label champion rush. Label ini merupakan syarat bagi mereka untuk dapat menjadi juara. Jadi, bila salah satu dari 10 tim tersebut mendapatkan booyah di game ke-11, tim itu lah yang menjadi juara.

Hal itu pun tidak terjadi, karena Falcons yang belum memiliki label champion rush berhasil mencuri booyah. Dengan begitu, pertandingannya lanjut ke game ke-12.

Di game ke-12, Chrisjo mengubah strateginya. Menurutnya, permainan timnya terlalu lambat, lebih banyak berpikir, fokus berlebihan untuk melakukan zoning.

Padahal, dirinya menilai kalau ingin menjadi juara, timnya tidak bisa bermain zone, tetapi juga harus punya insting untuk mencari poin eliminasi. Dari situ, Chrisjo meminta kepada anak-anak asuhnya memberikan tekanan dan melakukan spray terhadap lawan yang datang.