"Bukan Sekadar agresif. Yang paling penting adalah keberanian mengambil keputusan. Berani bergerak berbeda dengan berani melakukan rotasi tanpa tujuan. Yang aku maksud adalah berani ketika ada kesempatan mengambil fight. Jangan ragu terlalu lama karena tim lain akan lebih dahulu mengunci pergerakkan kita," ucapnya.
Puncaknya terjadi ketika sudah memasuki final stage. Di late game ini, hanya menyisakan empat tim, di antaranya GOW, AG.AL, RRQ Kazu, dan Bigetron by Vitality.
Chrisjo merasa, dari empat itu, Bigetron yang paling aktif mendekati dan memberikan tekanan. Kemudian pemain-pemain Bigetron terus bergerak dan memanfaatkan gloo wall, dengan tujuan agar tidak terlalu lama diam di satu tempat dan menjalankan strategi berikutnya.
"Komunikasi pemain pada akhirnya sangat sederhana: ada yang bergerak, tekan; ada di kanan, eliminasi. Mereka tidak lagi terlalu lama mempertimbangkan semua kemungkinan. Mereka tahu bahwa untuk mendapatkan Booyah, kami juga harus memberikan damage dan memenangkan fight" ungkapnya.
Meski begitu, Chrisjo mengaku bahwa di game battle royale memang faktor keberuntungan ikut mempengaruhi hasil. Kendati demikian, dirinya mengatakan ada perbedaan antara menunggu keberuntungan dan menjemputnya.
"Luck tetap ada, tetapi tim yang menjemput luck itu yang akhirnya menang," kata Chrisjo.
Pada akhirnya, Chrisjo menyampaikan apa yang diperjuangkan anak-anaknya di game ke-12 bukan hanya tentang satu booyah. Ada beragam hal yang membuatnya sangat berarti.
"Ada pemain yang harus keluar dari zona nyaman, mempelajari role baru, dan memaksa dirinya melewati batas. Ada staf dan orang-orang di belakang tim yang terus bekerja meskipun situasinya sulit. Hari itu mereka resmi menjadi juara FFWS SEA 2026 Fall. Namun, bagiku mereka sudah menjadi juara yang sesungguhnya bahkan sebelum trofi itu kami angkat," pungkasnya.