Salah satu contohnya adalah Oliver, seekor simpanse yang berjalan tegak dan digembar-gemborkan oleh para promotornya sebagai hibrida, hingga akhirnya para ilmuwan membuktikannya tidak sesuai klaim.
Kesempatan itu akhirnya tiba setelah Revolusi Rusia tahun 1917, saat ia bekerja di Institut Pasteur. Di sanalah, pada tahun 1924, Ivanov diberi kesempatan untuk mewujudkan proyek hibridisasi yang selama ini diimpikannya.
Ivanov diberi akses penuh terhadap simpanse mana pun yang ia inginkan di sebuah fasilitas yang berlokasi di wilayah yang saat itu dikenal sebagai French Guinea. Yang mengejutkan, ia menerima dana sebesar USD 10.000 dari Komisi Keuangan Soviet untuk melaksanakan pekerjaannya, bahkan sebelum mendapatkan persetujuan resmi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Soviet maupun para pejabat senior pemerintah Bolshevik.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa eksperimen ini dapat membuktikan teori Darwin mengenai seberapa dekat kekerabatan manusia dengan kera. Ada kemungkinan pula bahwa pihak Bolshevik ingin menunjukkan pencapaian di bidang genetika, yang selaras dengan gagasan mereka tentang 'eugenika positif'.
Singkat cerita, Ivanov tiba di fasilitas tersebut untuk melakukan keahlian utamanya: memindahkan sperma dari satu hewan ke hewan lainnya. Pada tahun 1926, ia dan Serge Voronoff mentransplantasikan ovarium manusia ke tubuh seekor simpanse betina, lalu mencoba menginseminasinya dengan sperma manusia. Ia mencoba prosedur ini dua kali lagi, namun gagal.
Alih-alih mengakui kekalahannya, Ivanov justru mengajukan pendekatan alternatif yang jauh lebih mengerikan. Dia mengambil sperma simpanse dan menanamkannya ke dalam rahim perempuan Afrika tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka.