"Bisa sampai tiga sampai lima kali lipat dari penjualan yang hari-hari biasanya karena saya mengikuti program-program dari Shopee," ungkap Fajar.

Selain memanfaatkan berbagai program promosi, Fajar juga mencoba Shopee Live untuk menjangkau lebih banyak pembeli. Saat kunjungan berlangsung, sesi siaran langsung mereka bahkan tengah ditonton sekitar 80 orang.

Berbagai upaya tersebut turut mendorong pertumbuhan penjualan digital Oleh-Oleh Jakarta. Kini, kanal online menjadi bagian penting dalam bisnis mereka, dengan sebagian besar transaksi berasal dari Shopee.

"Jadi, dari 100 persen, 80 persen penjualan dari Shopee," kata Fajar.

Perkembangan Oleh-Oleh Jakarta tidak hanya memperluas pasar produknya, tetapi juga membuka ruang bagi warga dan pelaku usaha lain di sekitarnya untuk ikut terlibat. Seiring kebutuhan produksi yang meningkat, Oleh-Oleh Jakarta mulai melibatkan tetangga sekitar dalam kegiatan usaha sekaligus menjalin kolaborasi dengan sejumlah UMKM di DKI Jakarta.

Kisah lainnya datang dari Dexmara, merek lokal yang memproduksi dan menjual dompet. Usaha yang dirintis pasangan suami istri Fachru dan Meidia ini berdiri pada 2004, setelah keduanya cukup lama berkecimpung dalam perdagangan grosir.

Untuk mengenal lebih dekat perjalanan Dexmara, Daniel mengunjungi tempat produksinya. Di sana, ia melihat langsung proses pembuatan dompet sekaligus berbincang dengan Fachru dan Meidia tentang perjalanan mereka membangun usaha.

Fachru bercerita, pada awal merintis Dexmara, penjualan produk masih banyak mengandalkan pasar grosir. Namun, seiring berkembangnya marketplace, kebiasaan belanja konsumen mulai berubah.

Di saat yang sama, Fachru mulai merasakan penurunan penjualan di pasar grosir. Kondisi tersebut mendorong dirinya bersama Meidia untuk mencari cara lain agar produk Dexmara tetap bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.

"Didorong menurunnya penjualan di pasar-pasar grosir, akhirnya kami coba untuk berjualan online, terutama di Shopee," tutur Fachru.

Fachru mengatakan mulai mencoba Shopee sekitar tahun 2018. Namun, berpindah dari pola perdagangan konvensional ke marketplace ternyata tidak sesederhana membuka toko lalu menunggu pembeli datang.

Keterbatasan pengetahuan dalam mengelola penjualan online membuat perjalanan Dexmara sempat tersendat. Fachru menyebut toko mereka bahkan sempat vakum selama sekitar dua tahun.

Kondisi itu mendorong Fachru dan istrinya untuk mempelajari seluk-beluk marketplace secara mandiri melalui berbagai materi pembelajaran, termasuk tutorial dari Shopee dan Kampus UMKM Shopee.

"Itu kendala yang berat. Pedagang grosir seperti saya mau tampil di marketplace terkendala karena keterbatasan ilmu. Akhirnya, saya sama istri memaksa diri untuk belajar," jelas Fachru.