NADIKABAR.COM — Siapa yang masuk ke sebuah rumah yang terkunci? Pertanyaan sederhana ini pernah menjadi teka-teki dalam sebuah keluarga besar. Tidak ada yang melihat langsung siapa yang masuk. Petunjuknya adalah daftar anggota keluarga yang sudah hadir dan yang belum. Dengan membandingkan keduanya, kemungkinan jawaban dapat dieliminasi hingga ditemukan orang yang dicari.
Seorang anak berusia enam tahun yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) mampu menjawab teka-teki itu dengan benar. Ia, bahkan dapat menjelaskan alasannya: menghitung siapa yang sudah hadir dan siapa yang belum. Anak itu belum belajar bahasa pemrograman, tetapi telah menunjukkan kemampuan mengumpulkan informasi, membandingkan fakta, mengeliminasi kemungkinan, dan menarik kesimpulan secara sistematis.
Pengalaman tersebut menggambarkan titik temu dua kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen): pembelajaran mendalam (PM) serta koding dan kecerdasan artifisial (KKA). Keduanya berbeda fungsi, tetapi dapat saling menguatkan dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Pembelajaran mendalam atau deep learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Murid tidak cukup mengingat informasi atau meniru contoh. Mereka perlu mengalami proses memahami pengetahuan, mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan, dan merefleksikan proses serta hasilnya. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan perancang pengalaman yang membantu murid membangun pemahaman, menguji gagasan, dan menjelaskan alasan di balik kesimpulannya.
Menggembirakan pun tidak sekadar berarti belajar sambil bermain. Kegembiraan muncul pula ketika murid berhasil memahami sesuatu yang semula sulit dan merasakan kepuasan atas pencapaiannya. Dengan demikian, mutu pembelajaran tidak ditentukan oleh banyaknya materi yang selesai atau canggihnya perangkat yang digunakan.
Koding tidak seharusnya dipersempit menjadi kegiatan mengetik kode di komputer. Di balik program terdapat algoritma, yakni urutan langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah. Anak dapat mulai mengenali pola, mengurutkan langkah, mengelompokkan benda, dan menemukan kesalahan melalui permainan tanpa perangkat digital (unplugged).