"Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya," papar Mujiono.
Mujiono berharap BBF terus menjadi ruang bagi para perajin untuk berkarya dan berinovasi, baik dalam pengembangan motif, desain, maupun strategi pemasaran.
"Termasuk memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas jangkauan pasar batik Banyuwangi," kata Mujiono.
Angkat Beragam Motif Khas Batik Banyuwangi
Tahun ini, BBF kembali digelar di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6-8 November 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2013, festival ini mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.
Sejak pertama kali digelar, BBF tidak sekadar menjadi ajang peragaan busana. Festival ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan motif batik kuno Banyuwangi, mendorong kreativitas perajin, serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk budaya lokal.